Kamis, 17 Maret 2011

Morfologi tumbuhan

I. Praktikum ke : 5

II. Tanggal Praktikum : 6 November 2008

III. Judul Praktikum : Morfologi Tumbuhan

IV. Tujuan Praktikum :Untuk mengenal dan mempelajari struktur organ

pada tumbuhan

V. Landasan Teori

Morfologi tumbuhan, yaitu ilmu yang mempelajari struktur organ tumbuhan baik mengenai akar, batang, daun dan buah maupun biji. Morfologi tumbuhan dipisahkan menjadi Morfologi luar atau Morfologi saja (Morphology in sensu strico = dalam arti yang sempit) dan Morfologi dalam atau anatomi tumbuhan.

Berdasarkan cirri-ciri umum, tumbuhan dapat dikelompokan ke dalam Dicovision, subdivision, kelas, ordo serta famili. Dalam praktikum ini, akan dibahas morfologi tumbuhan termasuk ke dalam kelas Dicotyledoneae dan Monocotyledoneae.

a. AKAR (RADIX)

Akar biasanya mempunyai sifat – sifat berikut:

1. Bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di dalam tanah,dengan arah tumbuh ke pusat bumi(geotrop) atau menuju ke air (hidrotrop),meninggalkan udara dan cahaya.

2. tidak berbuku-buku

3. warna biasanya keputih-putihan atau kekuning-kuningan

4. tumbuh terus pada ujungnya,tapi pertumbuhannya masih kalah dibandingkan pertumbuhan batang

5. bentuk seringkali merucing hingga lebih mudah menembus tanah

Akar bagi tumbuhan mempunyai tugas untuk:

1. Memperkuat berdirinya tumbuhan

2. Untuk menyerap air dan zat-zat makanan dari tanah

3. Mengangkut air dan zat-zat makanan ke bagian tumbuhan yang memerlukan

4. Kadang sebagai tempat penimbunan makanan

Pada akar umumya dapat dibedakan bagian-bagian berikut:

1. Leher akar atau pangkal akar (collum).yaitu bagian akar yang bersambungan dengan pangkal batang

2. Ujung akar (apex radicis), bagian akar yang paling muda terdiri atas jaringan-jaringan yang masih dapat mengadakan pertumbuhan.

3. Batang akar (corus radicis), bagian akar yang terdapat antara leher akar dan ujungnya.

4. Cabang-cabang akar (radix lateralis), yaitu bagian-bagian akar yang tak langsung bersambungan dengan pangkal batang,teapi keluar dari akar pokok,dan masing-masing dapat mengadakan percabangan lagi.

5. Serabut akar (fibrilla radicalis), cabang-cabang akar yang halus-halus dan berbentuk serabut.

6. Rambut-rambut akar atau bulu-bulu akar (pilus radicalis), bagian akar yang sesungguhnya hanyalah merupakan penonjolan sel-sel kulit luar akar yang panjang.Bentuknya seperti bulu atau rambut sehingga dinamakan rambut akar atau bulu akar.Dengan adanya rambut akar ini bidang penyerapan akar menjadi amat diperluas,sehingga lebih banyak air dan zat makanan yang dihisap.

7. Tudung akar (calyptra), bagian akar yang letaknya paling ujung, terdiri atas jaringan yang berguan untuk melindungi ujung akar yang masih muda dan lemah.

Catatan:

1. Rambut akar adalah bagian yang bersifat sementara, artinya umurnya pendek dan hanya terdapat pada ujung akar.Jika akar bertambah panjang rambut akar yang paling jauh dengan ujung mati, tetapi yang dekat dengan ujung diganti dengan yang baru.

2. Tudung akar sebagai pelindung ujung akar pinggirnya selalu aus karena menembus tanah tetapi bagian yang aus selalu diganti yang baru.

Calon akar telah ada sejak tumbuhan masih kecil (dalam bentuk lembaga di dalam biji) disebut akar lembaga.kalau biji mulai berkecambah sampai tumbuhan dewasa akar lembaga memperlihatkan perkembangan berbeda, sehingga pada tumbuhan lazimnya ada dua system perakaran yaitu:

1. Sistem akar tunggang (radix primaria) jika akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar – akar yang lebih kecil. Biasanya terdapat pada tumbuhan biji belah (Dicotyledoneae) dan tumbuhan biji telanjang (Gymnospermae).

2. Sistem akar serabut (radix adventicia) jika akar lembaga dalam perkembangan selanjutnya mati atau kemudian disusul oleh sejumlah akar yang sama besar dan semuanya keluar dari pankal batang. Akar ini dinamakan akar liar karena bukan berasal dari calon akar yang asli, bentuknya seperti serabut. Akar tunggang biasanya terdapat pada tumbuhan yang ditanam dengan biji.

Melihat percabangan dan bentuknya, akar tunggang dibedakan dalam:

1. Akar tunggang yang tidak bercabang atau sedikit, biasanya cabang terdiri atas akar halus berbentuk serabut karena berhungan dengan fungsinya sebagai tempat penimbunan zat makanan cadanagn lalu mempunyai bentuk yang istimewa, misalnya:

a. Berbentuk sebagai tombak (fusiformis), pangkalnya besar meruncing ke ujung dengan serabut-serabut akar sebagai percabangan, biasanya menjadi tempat penimbunan makanan. Berdasarkan bentuknya akar ini dinamakan pula akar tombak atau akar pena.

b. Berbentuk gasing (napiformis), pangkal akar besar membulat, akar-akar serabut sebagai cabang hanya pada ujung yang sempit dan meruncing.Menurut bentuknya dinamakan akar gasing.

c. Berbentuk benang (filiformis), bentuknya kecil panjang seperti serabut dan sedikit cabang.

2 Akar tunggang yang bercabang (ramosus). Bentuknya kerucut panjang, tumbuh lurus ke bawah, cabang banyak, cabangnya bercabang lagi sehingga memberi kekuatan lebih besar kepada batang, zat makanan lebih banyak terserap karena daerah perakaran jadi luas. Biasanya ditemui pada tumbuhan yang ditanam dengan biji.

Berhubungan dengan cara hidup yang harus disesuaikan dengan keadaan, pada berbagai jenis tumbuhan akarnya punya sifat dan tugas khusus, misalnya:

a. Akar udara atau akar gantung (radix aereus). Akar ini keluar dari bagian – bagian atas tanah, menggantung di udara dan tumbuh ke arah tanah mempunyai jaringan khusus yang disebut velamen untuk menimbun air dan udara. Misalnya: pada Beringin (Ficus benjamina L.).

b. Akar penggerek atau akar penghisap (haustorium). Akar ini terdapat pada tumbuhan yang hidup sebagai parasit dan berguna untuk menyerap air dan makanan dari inang, seperti pada benalu (Loranthus).

c. Akar pelekat (radix adligans). Akar keluar dari buku – buku batang tumbuhan memenjat dan berguna untuk menempel pada penunjangnya.

d. Akar pembelit (cirrhus radicalis), untuk memanjat tetapi dengan memeluk penunjangnya.

e. Akar nafas (pneumatophora), cabang-cabang akar yang tumbuh tegak lurus ke atas hingga muncul dari permukaan tanah dan punya banyak celah sebagai jalan masuk udara untuk pernafasan.

f. Akar tunjang atau akar egrang, akar tumbuh dari bagian bawah batang ke segala arah berguna untuk menunjang batang dan mengambil oksigen.

g. Akar lutut, bagian akar tumbuh ke atas kemudian membengkok lagi ke dalam tanah.

h. Akar banir, akar berbentuk papan yang diletakkan miring untuk memperkokoh batang.

b. BATANG (CAULIS)

Sifat – sifat batang pada umumnya, yaitu:

1. Umumnya panjang bulat seperti silender atau bentuk lain tetapi selalu bersifat aktinomorf, artinya dapat dengan sejumlah bidang dibagi menjadi dua bagian yang setangkup.

2. Terdiri atas ruas yang masing-masing dibatasi buku-buku, pada buku-buku terdapat daun.

3. Biasanya tumbuh ke atas, menuju cahaya atau matahari (bersifat fototrop atau heliotrop)

4. Mengadakan percabangan

5. Umumnya tidak berwarna hijau, kecuali tumbuhan yang umurnya pendek, misalnya rumput dan waktu batang masih muda.

Tugas batang, yaitu:

1. Mendukung bagian tumbuhan yang ada di atas tanah, yaitu: daun, bunga, dan buah.

2. Percabangannya memperluas bidang asimilasi

3. Jalan pengangkutan air dan zat makanan dari bawah ke atas dan jalan pengangkutan hasil asimilasi dari atas ke bawah.

4. Menjadi tempat penimbunan zat-zat makanan cadangan.

Berdasarkan jelas tidak kelihatan batangnya, batang dibedakan menjadi:

1. Tumbuhan yang tidak berbatang (planta acaulis), batangnya amat pendek, sehingga semua daunnya seakan keluar dari bagian akar dan tersusun rapat satu sama lain merupakan suatu roset (rosula). Jadi, kelihatan seperti tidak berbatang.

2. Tumbuhan yang jelas berbatang.

Batang tumbuhan dapat dibedakan sebagai berikut:

a. Batang basah (herbaceus), batangnya lunak dan berair

b. Batang berkayu (lignosus), batangnya keras dan kuat karena sebagian besar terdiri atas kayu.

c. Batang rumput (calmus), batang tidak keras mempunyai ruas nyata dan seringkali berongga.

d. Batang mendong (calamus), seperti batang rumput tapi ruasnya lebih panjang.

Untuk mengamati bentuk, dapat dilihat dari penampang melintang batang tersebut. Berdasarkan penampang melintang dapat dibedakan, yaitu:

a. Bulat (teres)

b. Bersegi (angularis) atau bersudut. Dalam hal ini ada kemungkinan:

1. Bangun segi tiga (triangularis)

2. Segi empat (quadrangularis)

c. Pipih dan biasanya lalu melebar menyerupai daun dan mengambil alih tugas daun pula. Batang yang bersifat demekian dinamakan:

1. Filokladia (phyllocladium), jika amat pipih dan mempunyai pertumbuhan yang terbatas.

2. Kladodia (cladodium), jika masih tumbuh terus dan mengadakan percabangan.

d. Tertekan

e. Setengah bulat

Sedangkan menurut tekstur permukaanya batang dibedakan menjadi:

1. Licin (laevis)

2. Kasar

3. Berusuk (costatus), jika pada permukaanya terdapat rigi-rigi yang membujur.

4. Beralur (sulcatus), jika membujur batang terdapat alur-alur yang jelas.

5. Bersayap (alatus), biasanya pada batang yang bersegi, tetapi pada sudut-sudutnya terdapat pelebaran yang tipis.

6. Bertekuk

Selain dari itu permukaan batang dapat pula:

1. Berambut (pilosus)

2. Berduri (spinosus)

3. Memperlihatkan berkas-berkas daun

4. Memperlihatkan berkas-berkas daun penumpu

5. Memperlihatkan banyak lentisel

6. Keadaan-keadaan lain, misalnya lepasnya kerak (bagian kulit yang mati).

Arah tumbuh batang

1. Tegak lurus (erectus), jika arahnya lurus ke atas

2. Menggantung (dependens, pendulus), pada tumbuhan yang tumbuh di lereng atau tepi jurang.

3. Berbaring (humifusus), jika batangnya terletak pada permukaan tanah, hanya ujungnya saja sedikit membengkok ke atas.

4. Menjalar atau merayap (repens), batang berbaring tetapi dari buku-bukunya keluar akar-akar

5. Serong ke atas atau condong (ascendens), pangkal batang seperti hendak berbaring tetapi bagian lainnya lalu membelok ke atas.

6. Menggangguk (nutans), batang tumbuh tegak lurus ke atas tetapi ujungnya lalu membengkok lagi ke bawah.

7. Memanjat (scandens), jika batang tumbuh ke atas dengan menggunakan penunjang. Alat khusus untuk “berpegangan” pada penunjang. Misalnya dengan:

§ Akar pelekat

§ Akar pembelit

§ Cabang pembelit

§ Daun pembelit

§ Tangkai pembelit

§ Duri

§ Duri daun

§ Kait

8. Membelit (volubilis), jika batang naik ke atas dengan menggunakan penunjang tidak menggunakan alat khusus seperti batang memanjat tapi batangnya sendir naik dengan melilit penunjangnya. Menurut arah melilitnya dibedakan lagi batang yang:

§ Membelit ke kiri (sinistrosum volubilis), arah belitan berlawanan arah jarum jam.

§ Membelit ke kanan (dextrorsum volubilis), arah belitan sama dengan arah gerakan jarum jam.

Percabangan Pada Batang

Cara percabangan ada tiga macam, yaitu:

1. Cara percabangan monopodial, jika batang pokok selalu tampak jelas karena lebih besar dan panjang (pertumbuhannya lebih cepat) daripada cabang – cabangnya.

2. Percabangan simpodial, batang pokok sukar ditentukan karena mungkin dalam pertumbuhannya kalah cepat dibandingkan batangnya.

3. Percabangan menggarpu atau dikotom, cara percabangan yang batangnya menjadi dua batang yang sama besar.

Cabang yang besar biasanya langsung keluar dari batang pokok lazimnya disebut dahan (ramus), sedang cabang kecil dinamakan ranting (ramulus).

Berdasarkan sifatnya cabang dibedakan menjadi:

1. Geragih (flagellum, stolo) yaitu cabang kecil panjang tumbuh merayap,dan dari buku – bukunya ke atas keluar tunas baru dank e bawah tumbuh akar – akar. Cabang dibedakan jadi dua macam, yaitu:

§ Merayap di atas tanah

§ Merayap di dalam tanah

2. Wiwilan atau tunas air (virga singularis), cabang yang biasanya tumbuh cepat dengan ruas-ruas panjang dan seringkali berasal dari kuncup tidur atau liar.

3. Sirung panjang (virga), cabang ini biasanya merupakan pendukung daun dan mempunyai ruas yang cukup panjang. Cabang ini tidak pernah menghasilkan bunga jadi disebut cabang mandul (steril).

4. Sirung pendek (virgula atau virgule sucrescens), cabangnya kecil dengan ruas pendek dan pendukung daun, bunga, buah. Cabang ini menghasilkan alat perkembangan bagi tumbuhan jadi disebut cabang yang subur (fertil).

Arah tumbuh cabang

1. Tegak (fastigiatus)

2. Condong ke atas (patens)

3. Mendatar (horizontalis)

4. Terkulai (declinatus)

5. Bergantung (Pendulus)

c. DAUN (FOLIUM)

Fungsi daun:

1. Pengambilan zat – zat makanan (resorbsi), terutama yang berupa zat gas (CO2)

2. Pengolahan zat-zat makanan (asimilasi)

3. Penguapan air (transpirasi)

4. Pernafasan (respirasi)

Bagian – bagian Daun

Daun lengkap mempunyai bagian - bagian berikut:

1. Upih daun atau pelepah daun (vagina)

2. Tangkai daun (petiolus)

3. Helaian daun (lamina)

Daun yang kehilangan satu atau dua bagian daun dinamakan daun tidak lengkap. Mengenai susunan daun yang tidak lengkap ada beberapa kemungkinan:

1. Daun bertangkai hanya terdiri atas tangkai dan helaian saja

2. Daun berupih atau daun berpelepah terdiri atas upih dan helaian

3. Daun duduk (sessilis) hanya terdiri atas helaian yang langsung melekat atau duduk pada batang.Dinamakan juga daun memeluk batang (amplexi caulis) karena pangkal daunnya lebar seakan melingkari atau memeluk batang.Bagian samping daun membulat dan disebut telinga daun.

4. Daun hanya terdiri atas tangkai saja, tangkai biasanya pipih sehingga menyerupai helaian daun, jadi merupakan helaian daun semu atau palsu, dinamakan:filodia

Alat – alat tambahan atau pelengkap antara lain berupa:

1. Daun penumpu (stipula)

Menurut letaknya daun penumpu dapat dibedakan dalam:

§ Daun penumpu yang bebas terdapat di kanan kiri pangkal tangkai daun, disebut daun penumpu bebas (stipulae liberae)

§ Daun penumpu yang melekat pada kanan kiri pangkal tangkai daun (stipulae adnatae)

§ Daun penumpu yang berlekatan menjadi satu yang mengambil tempat berhadapan dengan tangkai daun dan biasanya agak lebar hingga melingkari batang (stipula petiole opposite atau stipula antidroma)

§ Daun penumpu yang berlekatan dan mengambil tempat diantara dua tangkai daun, dinamakan daun penumpu antar tangkai (stipula interpetiolaris)

2. Selaput bumbung (ocrea atau ochrea)

3. Lidah – lidah (ligula)

Upih Daun atau Pelepah Daun (Vagina)

Biasanya terdapat pada tumbuhan berbiji tunggal (Monocotyledoneae). Upih daun merupakan bagian daun yang melekat atau memeluk batang. Fungsinya:

1. Sebagai pelindung kuncup yang masih muda

2. Memberi kekuatan pada batang tanaman

Tangkai Daun (Petiolus)

Tangkai daun merupakan bagian yang mendukung helaiannya dan bertugas untuk menempatkan helaian daun pada posisi sedemikian rupa sehingga memperoleh cahaya matahari yang sebanyak – banyaknya.

Bentuk penampang melintang tangkai daun:

§ Bulat dan berongga

§ Pipih dan tepinya melebar (bersayap)

§ Setengah lingkaran seringkali sisi atasnya berakur dangkal atau dalam.

§ Bersegi

Umumnya berbentuk silinder dengan sisi atas agak pipih dan menebal pada pangkalnya.

Helaian Daun (Lamina)

Sifat – sifat daun:

§ Bangunnya (sesungguhnya bangun helaiannya (circumscription)).

§ Ujungnya (apex)

§ Pangkalnya (basis)

§ Susunan tulang – tulangnya (nervatio atau venatio)

§ Tepinya (margo)

§ Daging daunnya (intervenium)

§ Dan sifat – sifat lain lagi, misalnya: keadaan permukaan atas maupun bawahnya (gundul, berwarna, atau lainnya), warna, dll.

Bangun (Bentuk) Daun (Circumscriptio)

Berdasarkan letak bagian daun yang terlebar dapat dibedakan dalam empat golongan, yaitu:

1. Bagian terlebar di tengah daun

a. Bulat atau bundar (orbicularis)

b. Bagian perisai (peltatus)

c. Jorong (ovalis atau ellipticus)

d. Memanjang (oblongus)

e. Bangun lanset (lanceolatus)

2. Bagian terlebar di bawah tengah helaian daun:

a. Pangkal daun tidak bertoreh

§ Bulat telur (ovatus)

§ Segi tiga (triangularis)

§ Delta (deltoideus)

§ Belah ketupat (rhomboideus)

b. Pangkal daun bertoreh atau berlekuk

§ Bangun jantung (cordatus)

§ Ginjal atau kerinjal (reniformis)

§ Anak panah (sagittatus)

§ Tombak (hastatus)

§ Bertelinga (auriculatus)

c. Bagian terlebar di atas tengah helaian daun

§ Bulat telur sungsang (obovatus)

§ Jantung sungsang (obcordatus)

§ Segitiga terbalik atau bangun pasak (cuneatus)

§ Sudip atau spatel atau solet (spathulatus)

d. Tidak ada bagian yang terlebar (hampir rata)

§ Bangun garis (linearis)

§ Pita (ligulatus)

§ Pedang (ensiformis)

§ Paku atau dabus (subulatus)

§ Jarum (acerosus)

Ujung Daun (Apex Folii)

a. Runcing (acutus)

b. Meruncing (acuminatus)

c. Tumpul (obtusus)

d. Membulat (rotundatus)

e. Rompang (truncatus)

f. Terbelah (retusus)

g. Berduri (mucronatus)

Pangkal Daun (Basis Folii)

a. Tepi daunnya di bagian itu tidak pernah bertemu, tetapi terpisah oleh pangkal ibu daun/ujung tangkai daun. Dalam keadaan demikian pangkal daun dapat:

§ Runcing (acutus)

§ Meruncing (acuminatus)

§ Tumpul (obtusus)

§ Membulat (rotundatus)

§ Rompang atau rata (truncatus)

§ Berlekuk (emarginatus)

b. Tepi daun dapat bertemu dan berlekatan satu sama lain:

§ Pertemuan tepi daun pada pangkal terjadi pada sisi yang sama

§ Pertemuan tepi daun terjadi pada sisi berlawanan

Susunan Tulang – tulang Daun (Nervatio atau Venatio)

Tulang daun berguna untuk:

a. Memberi kekuatan pada daun sehingga dinamakan rangka daun (sceleton)

b. Tulang daun sesungguhnya adalah berkas pembuluh yang berfungsi sebagai jalan pengangkutan zat – zat, yaitu:

§ Jalan pengangkutan zat yang diambil dari tanah (air dan garam mineral)

§ Jalan pengangkutan hasil asimilasi dari daun ke bagian yang memerlukan.

Tulang daun menurut besar kecilnya dibedakan dalam tiga macam, yaitu:

a. Ibu tulang (costa), biasanya tulang terbesar, merupakan terusan tangkai daun, dan terdapat di tengah membujur dan membelah daun

b. Tulang – tulang cabang (nervus lateralis), tulang yang lebih kecil dari ibu tulang dan berpangkal pada ibu tulang

c. Urat – urat daun (vena), tulang – tulang cabang tetapi lebih kecil atau lembut dan satu sama lain beserta tulang – tulang yang lebih besar membentuk susunan seperti jala, kisi, atau lainnya

§ Tulang cabang mencapai tepi daun

§ Tulang cabang berhenti sebelum mencapai tepi daun

§ Tulang cabang dekat tepi daun lalu membengkok ke atas dan bertemu tulang cabang di atasnya.

Berdasarkan susunan tulangnya kita membedakan daun menjadi empat golongan, yaitu:

1. Daun bertulang menyirip (penninervis), mempunyai ibu tulang yang berjalan ke ujung dan merupakan terusan tangkai daun, dari ibu tulang daun ini ke samping keluar tulang-tulang cabang. Umumnya terdapat pada Dicotyledoneae.

2. Daun bertulang menjari (polminervis), kalau dari ujung tangkai daun keluar beberapa tulang yang memencar, memperlihatkan susunan seperti jari – jari tangan. Pada umumnya hanya t erdapat pada Dicotyledoneae.

3. Daun bertulang melengkung (cervinervis), daun ini mempunyai beberapa tulang besar, satu ditengah paling besar yang lain mengikuti jalan tepi daun, jadi semula memencar lalu menuju ke satu arah ujung daun, hingga selain yang ditengah semua tulangnya kelihatan melengkung. Hanya terdapat pada Monocotyledoneae.

4. Daun bertulang sejajar atau lurus (rectinervis), biasanya terdapat pada daun bangun garis atau pita, mempunyai satu tulang di tengah yang besar membujur daun, sedang tulang lainnya lebih kecil dan nampaknya arahnya sejajar dengan ibu tulang. Lazim ditemui pada Monocotyledoneae.

TEPI DAUN (Margo Folii)

Dalam garis besarnya dibedakan dalam dua macam:

1. Rata (interger)

2. Bertoreh (divisus)

Berdasarkan sifatnya dibedakan dua golongan:

1. Toreh yang tidak mempengaruhi atau mengubah bangun asli daun (Toreh yang merdeka)

Pinggiran daun yang menonjol disebut angulus, sedangkan yang menjorok ke dalam disebut sinus.

Ragam tepi daunnya:

a. Bergerigi (serratus) misalnya, bergerigi kasar atau halus

b. Bergerigi ganda atau rangkap (biserratus)

c. Bergigi (dentatus)

d. Bergigit (crenatus)

e. Berombak (repandus)

2. Tepi daun dengan toreh mempengaruhi bentuk

Berdasarkan dalamnya toreh – toreh dibedakan dalam yang:

a. Berlekuk (lobatus)

b. Bercangap (fissus)

c. Berbagi (partitus)

Ragam daun tepi:

a. Berlekuk menyirip (pinnatilobus)

b. Bercangap menyirip (pinnatifidus)

c. Berbagi menyirip (pinnatipartitus)

d. Berlekuk menjari (palmatilobus)

e. Bercangap menjari (palmatifidus)

f. Berbagi menjari (palmatipartitus)

Daging Daun (Intervenium)

Ialah bagian daun yang terdapat di antara tulang – tulang daun dan urat – urat daun. Ada yang:

1. Tipis seperti selaput (membranaceus)

2. Seperti kertas (papyraceus atau chartaceus)

3. Tipis lunak (herbaceus)

4. Seperti perkarmen (perkamenteus)

5. Seperti kulit/belulang (coriaceus)

6. Berdaging (carnosus)

Warna Daun

1. Merah

2. Hijau bercampur atau tertutup warna merah

3. Hijau tua

4. Hijau kekuningan

Permukaan Daun

1. Licin (laevis), permukaan daun kelihatan:

§ Mengkilat (nitidus)

§ Suram (opacus)

§ Berselaput lilin (pruinosis)

2. Gundul (glaber)

3. Kasap (scaber)

4. Berkerut (rugosus)

5. Berbingkul – bingkul (bullatus)

6. Berbulu (pilosus)

7. Berbulu halus dan rapat (villosus)

8. Berbulu kasar (hispidus)

9. Bersisik (lepidus)

Berdasarkan macamnya dikenal:

1. Daun tunggal (Folium Simplek)

Dalam satu tangkai daun mendukung satu helaian daun, pada ketiak daunnya terdapat tunas.

2. Daun majemuk (Folium Compositum)

Dalam satu tangkai daun terdapat lebih dari satu helaian daun, pada ketiak daun tidak terdapat tunas.

Bagian – bagian daun majemuk:

a. Ibu tangkai daun (potiolus communis)

b. Tangkai anak daun (petiololus)

c. Anak daun (foliolum)

Menurut susunan anak daun pada ibu tangkainya, daun majemuk dapat dibedakan dalam empat golongan, yaitu:

1. Daun majemuk menyirip (pinnatus), dibedakan dalam beberapa macam:

a. Daun majemuk menyirip beranak daun satu (unifoliolatus)

b. Daun majemuk menyirip genap (abrupte pinnatus)

c. Daun majemuk menyirip gasal (imparipinnatus)

Menurut besar kecilnya anak daun yang terdapat pada ibu tangkai, dibagi menjadi:

a. Daun majemuk menyirip dengan anak daun yang berpasang – pasangan.

b. Menyirip berseling

c. Menyirip berselang – seling (interrupte pinnatus)

Daun majemuk menyirip ganda dapat dibedakan dalam:

a. Majemuk menyirip ganda dua (bipinnatus)

b. Majemuk menyirip ganda tiga (tripinnatus)

c. Majemuk menyirip ganda empat

Daun menyirip ganda dibedakan lagi menjadi:

a. Menyirip ganda dengan sempurna

b. Menyirip ganda tidak sempurna

2. Daun Majemuk Menjari (Palmatus atau Digitatus)

Berdasarkan jumlah anak daunnya, dibedakan seperti berikut:

a. Beranak daun dua (bifoliolatus)

b. Beranak daun tiga (trifoliolatus)

c. Beranak daun lima (quinquefoliolatus)

d. Beranak daun tujuh (septemfoliolatus)

3. Daun M ajemuk Bangun Kaki ( Pedatus)

4. Daun Majemuk Campuran (Digitatopinnatus)

d. BUNGA (FLOS)

Bunga adalah bagian tanaman yang mempunyai fungsi reproduktif / generatif karena pada bunga inilah terdapat perkembangbiakan generatif yang berfungsi di dalam reproduksi seksual.

Struktur bunga terdiri dari:

1. Putik (Pistil, Pistillum)

Menurut banyaknya daun buah yang menyusun sebuah putik, putik dapat dibedakan dalam:

a. Putik tunggal (simplex)

b. Putik majemuk (compositus)

Bagian – bagian putik:

a. Bakal buah (ovarium), seks betina

Menurut letaknya terhadap dasar bunga, dibedakan:

§ Bakal buah menumpang (superus)

§ Bakal buah setengah tenggelam (hemi inferus)

§ Bakal buah tenggelam (inferus)

Berdasarkan jumlah ruang yang terdapat dalam suatu bakal buah, bakal buah dibedakan dalam:

§ Bakal buah beruang satu (unicularis)

§ Bakal buah beruang tiga (tricularis)

§ Bakal buah beruang banyak (multilocularis)

b. Tangkai kepala putik (stilus), bagian putik yang sempit dan terdapat pada bakal buah biasanya berbentuk benang.

c. Kepala putik (stigma), ialah bagian putik yang paling atas terletak pada ujung tangkai kepala putik tadi.

2. Benang sari (stamen), seks jantan

Terdiri dari:

a. Kepala sari (anter)

b. Serbuk sari atau tepung sari (polan)

c. Tangkai sari (filament)

3. Daun mahkota (petal, jamaknya corolla)

4. Daun kelopak (sepal, jamaknya calyx)

Berdasarkan berperan atau tidaknya dalam reproduksi, bagian bunga dibagi dalam bagian bunga esensial, yaitu putik dan benang sari dan bagian bunga non esensil, yaitu dasar bunga (reseptakel), sepal dan petal.

Berdasarkan faktor esensil yang dimiliki, bunga ada yang disebut bunga sempurna karena memiliki bunga putik dan benang sari.Ada juga bunga tidak sempurna apabila memiliki salah satu bagian esesilnya.

TUMBUHAN DIKOTIL DAN MONOKOTIL

Perbedaan ciri morfologi dan anatomi tumbuhan Dikotil dan Monokotil

Pembeda

Dicotyledoneae

Monocotyledoneae

Biji

Biji punya lembaga dengan dua daun lembaga

Pada waktu berkecambah belah menjadi dua bagian

Biji punya lembaga dengan satu daun lembaga yang mengalami metamorfosis jadi alat penghisap dari endosperm bagi lembaga

Pada waktu berkecambah biji tidak terbelah

Lembaga/

kecambah

Akar lembaga tumbuh terus jadi akar tunggang yang bercabang – cabang, membentuk system akar tunggang

Ujung akar lembaga dan pucuk lembaga tidak mempunyai pelindung yang khusus

Akar lembaga kemudian mati, disusul dengan pembentukan akar yang sama besar dan keseluruhannya membentuk system akar serabut

Ujung akar lembaga dilindungi koleriza, ujung pucuk lembaga dilindungi oleh koleoptil

Batang

Batang dari pangkal ke ujung seperti kerucut panjang, bercabang – cabang, buku – buku dan ruas tidak jelas

Batang dari pangkal ke ujung hampir sama besar, tidak bercabang – cabang, buku – buku dan ruas – ruas batang tampak jelas

Daun

Daun tunggal atau majemuk, seringkali disertai daun penumpu, jarang mempunyai upih

Daun duduknya tersebar atau berkarang

Tulang daun menjari atau menyirip

Pada cabang sering terdapat dua daun pertama duduk berhadapan dan terletak tegak lurus pada bidang median

Daun tunggal, berupih, kadang – kadang mempunyai lidah – lidah yang dianggap sebagai metamorfosisnya daun penumpu

Daun duduknya berseling atau merupakan rozet

Tulang daun sejajar atau melengkung

Pada cabang, daun pertama hanya satu terletak dalam ketiak cabang di dalam bidang median

Bunga

Bagian – bagian bunga berbilangan dua, empat, atau lima (dimmer, tetramer, atau pentamer)

Bagian – bagian bunga berbilangan tiga (trimmer)

Anatomi

Baik akar maupun batang mempunyai kambium, sehingga dapat tumbuh membesar (pertumbuhan sekunder)

Berkas pembuluh pengangkutan kolateral terbuka atau bikolateral

Pada akar berkas pembuluh angkut semula bersfat radial, setelah terjadi pertumbuhan menebal sekunder seperti kolateral terbuka

Batang maupun akar tidak mempunyai kambium,tidak ada pertumbuhan sekunder

Berkas pembuluh pengangkutan kolateral tertutup

Berkas pembuluh pengangkutan dari semula tetap radial

VI. Alat dan Bahan

Alat:

1. Mikroskop

2. Lup

3. Pisau besar/pisau dapur

4. Pinset anatomi

5. Silet

Bahan:

1. Tanaman Hibiscus rosa sinesis atau Hibiscus hasil hibrida lainnya. (kembang sepatu)

2. Tanaman Imperata cylindrica (ilalang)

3. Tanaman Dracaena sp (bambu rejeki)

4. Tanaman famili Verbenaceae

5. Tanaman Pterocarpus indicus

VII. Cara Kerja

Semua pengamatan harus dicatat langsung dalam lembar kerja sesuai dengan petunjuk.

Kegiatan 1: Batang, daun, bunga Dicotyledoneae (Hibiscus; Pterocarpus; famili Verbenaceae)

a. Untuk mengamati batang perhatikan tekstur dari kedua tanaman ini. Potong batangnya secara melintang lalu amati penampangnya.

b. Potong sebagian batang dengan beberapa tangkai daun dari kedua tanaman tersebut dan amati baik – baik daun serta tangkainya. Perhatikan pula daunnya secara lebih teliti bagaimana tangkainya, macamnya, letaknya, uraian daunnya, tepinya serta teksturnya

c. Amati bunga hibiscus, bagaimana macamnya, jumlah sepal dan petalnya, serta benang sari dan putiknya. Untuk bunga Hibiscus perhatikan secara teliti keadaan dari benang sari dan putik yang merupakan cirri khusus dari tanaman yang termasuk ordo Malvales

d. Perhatikan dan bandingkan persamaan dan perbedaan morfologi dari tanaman Hibiscus yang termasuk dalam satu kelas tapi berbeda ordo ini. Kemudian umum ciri – cirri morfologi kelas Dicotyledonaea ini.

Gambarkan: Tanaman Hibiscus dan tunjukkan nama bagian – bagian lengkapnya

Kegiatan 2: Batang, daun, bunga Monocotyledoneae (Imperata; Dracaena)

a. Seperti halnya mengamati batang pada kegiatan 1 dan amati pula bentuk, tekstur, serta penampang melintang batang Dracaena sp.

b. Demikin pula cara mengamati daun serta tangkainya, ambil sebagian batang yang berdaun dari kedua tanaman ini. Amati bagian – bagiannya secara teliti, bagaimana macam, letak, bentuk daun, urat daun, tepi daun, tekstur, sera tangkainya. Untuk tanaman alang – alang amati lebih teliti karena alang – alang mempunyai daun lengkap.

c. Perhatikan dan bandingkan persamaan serta perbedaan morfologi tanaman Imperata cylindrica dan Dracaena sp yang termasuk satu kelas tapi berbeda ordo ini. Kemudian ambil kesimpulan umum ciri – cirri Morfologi Monocotyledoneae.

VIII. Hasil Pengamatan

TABEL HASIL PENGAMATAN

Tabel 1: Hasil Pengamatan Kegiatan 1

Bagian Tanaman

Hibiscus rosa sinesis

Pterocarpus indicus

Famili Verbenaceae

Batang

Bulat, buku-buku dan ruas tidak jelas

Bulat, dari pangkal ke ujung seperti kerucut

Bersudut segi empat, bercabang-cabang

Daun

Tunggal, tulang daun menyirip

Tunggal,tulang daun menyirip

Majemuk, tulang daun menyirip

Bunga

Sempurna

Kelipatan 5

-

-

Tabel 2: Hasil Pengamatan Kegiatan 2

Bagian Tanaman

Imperata cylindrical

Dracaena sp

Batang

Bulat,batang berbuku – buku, tunas tumbuh di ujung batang, dari pangkal ke ujung sama besar, tidak bercabang – cabang, memiliki batang semu dan ada akar advertif

Bulat,setiap buku ada tunas tidur, batang berbuku-buku, dari pangkal ke ujung sama besar, tidak bercabang – cabang

Daun

Tunggal, tulang daun sejajar, daunnya lengkap

Tunggal, tulang daun sejajar,daunnya lengkap, duduknya berseling merupakan rozet

Bunga

-

-

Tabel 3: Perbandingan Hasil Pengamatan Kegiatan 1 dan 2

Bagian Tanaman

Dicotyledoneae

Monocotyledoneae

Batang

Bulat, dari pangkal ke ujung seperti kerucut, ruas tidak jelas, ada yang bersudut dan bercabang – cabang

Batang dari pangkal ke ujung hampir sama besar, tidak bercabang – cabang, buku – buku, ada tunas tidur di setiap buku

Daun

Ada yang tunggal ada yang majemuk, dengan tulang daun menyirip

Tunggal, tulang daun sejajar,daunnya lengkap, duduknya berseling merupakan rozet

Bunga

Kelipatan 5

-

IX. Pembahasan

Pada praktikum ini kami mengamati Tanaman Hibiscus rosa sinensis (kembang sepatu), Tanaman Dracaena sp (Bambu rejeki), Tanaman Pterocarpus indicus (Angsana), Tanaman Imperata cylindrica (Ilalang), dan Tanaman dengan batang bersudut (Famili Verbenaceae).

Pada Kegiatan 1, kami mengamati Hibiscus rosa sinensis (kembang sepatu). Struktur organ yang kami amati adalah batang, daun, dan bunga. Ciri morfologi dari batangnya, yaitu bulat, buku-buku dan ruas tidak jelas, daunnya tunggal dengan tulang daun menyirip, sedangkan pada bunganya kelipatan 5.Struktur bunga ini terdiri dari putik (pistil), benang sari (stamen) yang merupakan bagian esensial, daun mahkota (petal), daun kelopak (sepal) yang merupakan bagian non esensil.Bunga Hibiscus rosa sinensis ini termasuk bunga sempurna karena memiliki putik dan benang sari.

Pada Famili Verbenaceae, Struktur organ yang diamati adalah batang dan daunnya. Batangnya diamati lebih teliti karena bentuknya bersudut, segi empat dan memiliki cabang-cabang, daunnya majemuk dengan tulang daun menyirip.

Sedangkan pada Pterocarpus indicus, Struktur organ yang diamati adalah batang dan daun. Batangnya bulat, dari pangkal ke ujung seperti kerucut dan daunnya

tunggal dengan tulang daun menyirip.

Dari hasil pengamatan Hibiscus rosa sinesis, Pterocarpus indicus dan tanaman Verbenaceae termasuk tanaman Dicotyledoneae dengan ciri batang bulat, dari pangkal ke ujung seperti kerucut, ruas tidak jelas, ada yang berbentuk sudut dan bercabang – cabang. Daunnya ada yang tunggal ada yang majemuk, dengan tulang daun menyirip, dan bunga kelipatan 5.

Pada kegiatan 2, kami mengamati Imperata cylindrica (Ilalang), Dracaena sp (Bambu rejeki).

Pada Ilalang struktur organ yang diamati batang, daun. Ciri batangnya bulat ada buku – buku, tunas tumbuh di ujung batang, dari pangkal ke ujung sama besar dan tidak bercabang – cabang, memiliki batang semu dan ada akar advertif. Daun tunggal dengan tulang daun sejajar, termasuk daun lengkap karena ada helaian daun (lamina), pelepah daun (vagina), dan tangkai daun (petiolus).

Pada Bambu rejeki struktur organ yang diamati adalah batang dan daun. Ciri batangnya bulat,setiap buku tunas tidur, batang berbuku-buku, dari pangkal ke ujung sama besar dan tidak bercabang – cabang. Daun tunggal dengan tulang daun sejajar,daunnya lengkap karena memiliki helaian daun (lamina), pelepah daun (vagina), dan tangkai daun (petiolus) duduk daun berseling merupakan rozet.

Dari hasil pengamatan, Ilalang dan Bambu rejeki termasuk ke dalam Monocotyledoneae dengan ciri batang batang dari pangkal ke ujung hampir sama besar, tidak bercabang – cabang tapi memiliki buku – buku, ada tunas tidur di setiap buku. Daunnya tunggal dengan tulang daun sejajar,daunnya lengkap.

Pertanyaan:

1. Sebutkan secara singkat dan jelas ciri-ciri umum morfologi Dicotyl berdasarkan pada hasil pengamatan kegiatan 1 diatas (lihat tabel 1)?

Daunnya ada yang tunggal ada yang majemuk, dengan tulang daun menyirip, bunga kelipatan 5, dan batang bercabang-cabang.

2. Sebutkan secara singkat dan jelas ciri-ciri umum morfologi Monocotyl berdasarkan pada hasil pengamatan kegiatan 2 diatas (lihat tabel 2)?

Daun tunggal dengan tulang daun sejajar, dan batang tidak bercabang-cabang.

3. Bandingkan dan uraikan secara singkat dan jelas perbedaan umum secara morfologi dari kelas Dicotyl dan Monocotyl berdasarkan pengamatan kegiatan 1 dan 3 diatas (table 3)?

Kelas Dicotyl : - Batang bercabang

- Daun ada yang tunggal dan majemuk

- Bunga kelipatan 5

- Tulang daun menyirip

Kelas Monocotyl : - Batang tidak bercabang

- Daun tunggal

- Tulang daun sejajar

X. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan kami dapat disimpulkan bahwa:

Hibiscus rosa sinesis, Pterocarpus indicus dan tanaman Verbenaceae termasuk tanaman Dicotyledoneae dengan ciri morfologi batang bulat, dari pangkal ke ujung seperti kerucut, ruas tidak jelas, ada yang berbentuk sudut dan bercabang – cabang. Daun ada yang tunggal ada yang majemuk, dengan tulang daun menyirip, dan bunga kelipatan 5.

Ilalang dan Bambu rejeki termasuk ke dalam Monocotyledoneae dengan ciri morfologi batang dari pangkal ke ujung hampir sama besar, tidak bercabang – cabang tapi memiliki buku – buku, ada tunas tidur di setiap buku. Daun tunggal dengan tulang daun sejajar,daunnya lengkap.

XI. Daftar Pustaka

Hidayat, Estiti B. 1993. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB

Suradinata, Tatang S. 1998. Struktur Tumbuhan. Bandung: Angkasa

Tim Dosen Biologi Umum. 2008. Panduan Praktikum Biologi Umum. Inderalaya: Universitas Sriwijaya

Tjitrosoepomo, Gembong.1985. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Yatim, Wildan. 1974. Biologi. Bandung: Tarsito

Tidak ada komentar:

Posting Komentar