Kamis, 17 Maret 2011

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

“Learning is the process by witch an activity originates or changed through training procedures weather in the laboratory or in the natural environment” (Hilgard: Strategi Pembelajaran Berorientasi standar pendidikan).

Menurut Hilgard, belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah. Dalam kegiatan perkuliahan tidaklah lengkap jika hanya berupa teori tatap muka di kelas atau praktikum. Sesuai dengan kurikulum Pendidikan Biologi, terdapat mata kuliah Praktikum Taksonomi Vertebrata yang didalamnya terdapat pengamatan terhadap aspek-aspek biologi pada kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Mahasiswa akan lebih mudah memahami apabila berinteraksi dan mengobservasi di lingkungan alamiah. Untuk itulah, dipilih kompleks makam Ratu Bagus Kuning karena disana banyak terdapat populasi kera dan masih berada di wilayah palembang yaitu di daerah Plaju, sehingga mudah untuk dikunjungi oleh mahasiswa untuk mengobservasi secara langsung, sehingga dapat meningkatkan kualitas pemahaman dan pengetahuannya.

Populasi kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang ada di Kompleks Makam Ratu Bagus Kuning (KMBRK) merupakan populasi kera yang terkonservasi di tengah kota. Lazimnya populasi kera, kera ekor panjang di KMRBK Palembang memiliki struktur dan susunan kelompok yang anggotannya menempati posisi tertentu. struktur ini misalnya kelompok usia, jenis kelamin, dan kelompok sosial. kelompok sosial terdiri dari jantan pemimpin, jantan wakil pemimpin, jantan biasa, dan betina. oleh karena adanya struktur yang unik ini, maka diduga terdapat pola-pola perilaku yang terekspresi dalam aktifitas hariannya. aktifitas harian meliputi aktifitas makan, bemain, grooming, kawin, istirahat, berkelahi, dan pemeliharaan anak.

1.2 Tujuan

1. Meningkatkan kualitas pemahaman dan pengetahuan mahasiswa terhadap aspek-aspek biologi pada kera ekor panjang (Macaca fascicularis).

2. Mempelajari sturktur populasi kera ekor panjang di KM RBK ditinjau dari ukuran populasi, nisbah kelamin, kepadatan populasi dan strata kelompok umur

3. mempelajari aktifitas harian ditinjau dari aktifitas makan, bemain, grooming, kawin, mencari makan dan istirahat, berkelahi, dan pemeliharaan anak (interaksi ibu dan anak).

1.3 Manfaat

Diharapkan setelah kegiatan praktikum kunjungan ke makam Ratu Bagus Kuning ini, mahasiswa dapat meningkatkan kualitas pengetahuan dan pemahamanya dalam mempelajari sturktur populasi kera ekor panjang di KM RBK ditinjau dari ukuran populasi, nisbah kelamin, kepadatan populasi dan strata kelompok umur, dan mempelajari aktifitas harian ditinjau dari aktifitas makan, bemain, grooming, kawin, mencari makan dan istirahat, berkelahi, dan pemeliharaan anak (interaksi ibu dan anak).

BAB II

ISI

I. Landasan Teori

Taksonomi kera ekor panjang (Macaca fascicularis)

Menurut Napier (1967), taksonomi kera ekor panjang adalah:

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Subphylum : Vertebrata

Kelas : Mamalia

Order : Primates Linnaeus, 1958

Suborder : Antrhopoide Mivart, 1864

Super Famili : Cercophitecoidea Simpson, 1931

Sub Famili : Cercophitecinae Blanford,1888

Genus : Macaca Lacepede,1799

Species : Macaca Fasicularis Raffles, 1821

Kera ekor panjang dikenal dengan crab-eating macaque dan long tailed macaque (Inggris), sedangkan di Indonesia disebut monyet ekor panjang, kunyuk atau ketek.Para kera ekor panjang juga disebut kera kepiting-makan, atau cynomolgus atau 'monyet java'.

Sedangkan menurut Takai dan Mouri (1999), secara taksonomi kera ekor panjang termasuk

Ordo : Primata,

Sub Ordo : Anthropoidea,

Infraordo : Catarrhini,

Superfamili : Cercophitecoidea

Famili : Cercophitecidae

Genus : Macaca

Species : Macaca Fasicularis

Kera ini digolongkan ke dalam golongan Kera dunia Lama karena ekor tidak bersifat prehensil (tidak dapat digunakan untuk memegang), lubang hidung tidak terpisah jauh dan mengarah ke bawah (Keeton dan Gould, 1986). Hanya dua spesies kera dunia lama yang hidup di Timur garis Wellace yaitu kera ekor panjang dikepulauan Sunda dan kera perak daun di Lombok (Kawamoto et al,1981)

Morfologi Macaca Fasicularis

Menurut Aldrich-Blake (1976) dalam Chivers (1980) kera ekor panjang merupakan kera kecil yang berwarna coklat dengan perut agak putih terutama pada mukanya. Sedangkan menurut Yasuma dan Alikodra (1990), kera ekor panjang memiliki karakter tubuh yang berwarna coklat abu-abu dan badan bagian depan selalu lebih pucat. Bayi monyet yang baru lahir berwarna hitam, muka dan telinganya berwarna merah muda. Setelah satu minggu kulit mukanya menjadi merah muda keabu-abuan dan setelah enam minggu menjadi coklat.

Warna rambut yang menutupi tubuh bervariasi tergantung pada umur, musim, dan lokasi. Kera yang menghuni lokasi hutan umumnya berwarna lebih gelap dan lebih mengkilap, sedangkan yang menghuni kawasan pantai umumnya berwarna lebih terang (Lekagul dan McNeely, 1977)

Panjang kepala dan badan berkisar antara 350-455 mm, panjang ekor antara 400-565 mm, telapak kaki belakang 120 -140 mm, tengkorak 120 mm dan telinga 34-38 mm. Aldrich- Blake (1976) dalam Chivers (1980) menyatakan bahwa berat jantan dewasa berkisar antara 5-7 kg dan betina dewasa antara 3-4 kg.

Kera ekor panjang mempunyai lingkar tubuh 38-76 cm, tinggi dapat mencapai 61 cm dengan berat maksimal 13 kg. Forum muka datar dengan mata mengarah ke depan. Hidung pendek, telinga kecil dan mempunyai ekor panjang. (Nowak dan Paradiso, 1983)

Ekor Macaca fasicularis berbentuk silindris, muskular dan ditutupi oleh rambut-rambut pendek. Umumnya panjang ekor antara 80-110 % dari panjang kepala dan badan. Rambut pada mahkota kepala tersapu ke belakang dari arah dahi. Satwa muda seringkali mempunyai jambul yang tinggi, sedangkan yang lebih tua mempunyai cambang yang lebat mengelilingi muka. (Lekagul dan McNeely, 1977)

Kematangan Seksual

Kematangan seksual adalah mulai siapnya individu untuk bereproduksi baik secara fisik (terutama dari kesiapan organ-organ reproduksi)dan mental.

Di Alam:

Pada umur 3,5 – 5 tahun (Lavieren, 1983)

Pada umur 4 tahun (Napier dan Napier, 1967)

Pada umur 3-4 tahun (Fiennes, 1976 dalam Smith dan Mangkoewidjojo, 1988)

Di Penangkaran:

Pada umur 3-4 tahun (Djabbar,1994)

Laki-laki mencapai kematangan seksual pada sekitar usia 6 tahun, sedangkan betina dewasa sekitar usia 4 tahun.. wanita-peringkat yang lebih tinggi menjadi reproduktif matang sebelum wanita-peringkat yang lebih rendah. Keturunan perempuan ini-peringkat yang lebih tinggi memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup dibandingkan perempuan keturunan-peringkat yang lebih rendah.. Kedua fenomena ini terkait dengan ketersediaan pangan yang lebih besar dan penurunan jumlah agresi yang dialami oleh perempuan peringkat yang lebih tinggi.

Wanita kera ekor panjang menunjukkan keberputaran mencolok perilaku seksual selama siklus menstruasi mereka.. Saat mereka mendekati ovulasi, perempuan mengalami pembengkakan pada kulit di daerah perineum. Namun, tidak ada korelasi langsung antara frekuensi kopulasi dan derajat pembengkakan jaringan genital. Penyembunyian ovulasi ini bisa ada untuk membujuk mendampingi laki-laki untuk tinggal dengan perempuan lagi.

Siklus menstruasi selama 28 hari. Lama estrus sekitar 11 hari, masa kehamilan 167 hari, berat kelahiran 230-470 gr, Laktasi berkisar 14-18 bulan, kematangan seksual jantan dan betina yaitu sekitar 4 tahun (Napier dan Napier, 1967)

Sebagai efek samping dari periode estrus berkepanjangan dan penyembunyian ovulasi, sulit bagi manusia untuk memperkirakan panjang umur kehamilan.. Namun, nampaknya kehamilan rata-rata sekitar 162 hari. The intervasl interbirth rata-rata kurang lebih 390 hari, menunjukkan bahwa perempuan dapat menghasilkan muda setiap tahun jika peringkat tinggi, dan setiap tahun lainnya dinyatakan.

. Muda merawat sampai mereka sekitar umur 420 hari. Interval rata-rata dilaporkan 390 hari, yang kurang dari waktu rata-rata sampai penyapihan.. Baik panjang keperawatan dan interval interbirth mungkin akan terpengaruh oleh pangkat ibu.

Diketahui bahwa kelahiran di puncak ini spesies dari Mei hingga Juli, sesuai dengan musim hujan.

Anak kera disapih pada umur 5-6 bulan, jumlah anak tiap melahirkan (litter size) satu ekor jarang 2 (Roonwal dan Mohnot, 1977), panjang usia 25-30 tahun, perkawinan terjadi sewaktu-waktu dan ovulasi berlangsung spontan rata-rata hari ke 13 pada siklus estrus. (Smith, 1988)

Musim kawin kera ekor panjang terjadi pada bulan November atau Desember dan berakhir bulan Februari atau Maret. Jantan pemimpin mempunyai persyaratan tertentu dalam memilih pasangan. Ia hanya memilih beberapa ekor saja untuk dikawini. Kera jantan dari golongan bawah dan menengah dibiarkan bebas memilih pasangannya (Grzimek’s, 1975). Suatu fenomena lain bahwa terjadi prilaku kawin yang sama dari dua spesies yang berbeda, M. fasicularis dan M. nemesterina pada perkawinan campur kedua spesies tersebut (Iskandar et 1999)

Betina dewasa biasanya menolak atau menyia-nyiakan bayi pada kelahiran pertama, tetapi akan terbiasa merawat pada kelahiran kedua dan ketiga. Pengasuhan anak pada Macaca meliputi usaha melindungi bayi atau anaknya dari ganguan hewan lain. Biasanya bayi digendong di dada induknya dan dibawa kemana pergi. Bayi biasanya disusukan sampai dengan umur dua bulan kemudian disapih oleh induknya. Hewan betina mengajarkan kepada anaknya untuk mendapatkan pakan. Anak diasuh sampai dengan umur dua tahun (Erwin, 1987)

Di Sumatera, masing-masing kelompok sosial monyet ini berisi rata-rata 5,7 jantan dan 9,9 betina dewasa.. Meskipun perempuan melebihi jumlah laki-laki, yang menunjukkan bahwa laki-laki memiliki pasangan lebih tersedia untuk mereka daripada perempuan, kedua jenis kelamin dapat kawin dengan beberapa mitra. Namun, pria alfa, atau laki-laki peringkat tertinggi, kelompok memiliki akses terbesar bagi pasangan dari setiap laki-laki, dan mungkin pejantan yang paling keturunan.

Rumus geligi kera ekor panjang adalah sebagi berikut

Jenis Pakan dan Tingkah Laku Makan

kera ekor panjang adalah omnivora, dan mengeksploitasi berbagai jenis makanan yang berbeda, yang mencerminkan keragaman habitat mereka bisa memanfaatkan.. Panjang rata-rata makan buti adalah 18,3 menit.. Mungkin ada pada rata-rata dua puluh buti per hari.. Mereka makan berbagai jenis makanan seperti buah-buahan, kepiting, bunga, serangga, daun, jamur, rumput, dan tanah liat.. Clay dapat dimakan untuk kalium yang ditemukan di dalamnya, meskipun tingkat kalium dalam tanah liat yang rendah.. Namun, 96% dari pemberian pakan per hari adalah menghabiskan makan buah. Beberapa pengamatan terbatas menyarankan bahwa buah pilih kera ekor panjang berdasarkan kematangan, yang didasarkan pada warna.

Menurut Roumauli (1993) Macaca fasicularisi merupakan satwa frugrivorus atau pemakan buah, didukung oleh besarnya persentase bagian buah yang dipilih sebagai pakan. Persentase bagian buah sebesar 71,0 % dan 6,06 %. Jenis pakan lain berupa serangga, bunga, rumput, jamur, tanah, mollusca, crustacea, akar, biji, dan telur burung (Lindburg, 1980. Smith dan Mangkoewidjojo, 1988) Namun menurut Chivers (1974) Ficus sp. merupakan makanan paling penting bagi kera dan monyet di alam. hal ini karena Ficus sp terdapat di hutan dan dapat berdaunmuda sepanjang tahun dan berbuah 2-3 kali setahun.

Kera ekor panjang termasuk hewan yang bertempramen gaduh, terutama saat mencari makan. Kera ini dapat berkomunikasi dengan meggunakan alarm call berulang-ulang dengan beberapa interval (Yasuma dan Alikodra, 1990). Populasi kera ekor panjang telah tersusun dalam satuan reproduktif yang lengkap. Setiap kelompok dapat mencapai wilayah teritori seluas 2-15 km2 . Apabila dalam wilayah teritori ini mereka menemukan makanan mereka akan terbentuk lingkaran luar dan lingkaran dalam (Grzimek’s, 1975)

Disela-sela kegiatan mencari makan, kera biasanya mempunyai kegiatan unik yaitu grooming yang bertujuan membersihkan dan memelihara diri dari parasit maupun kotoran, selain untuk membangun dan menjaga serta memperkuat ikatan sosial (Butovskaya et al, 1995)

Habitat

kera ekor panjang adalah "ekologis beragam.". Beberapa habitat di mana mereka telah ditemukan adalah hutan primer, hutan terganggu dan sekunder, dan sungai dan hutan pantai dan mangrove sawit nipa.. kera ekor panjang tinggal paling berhasil di habitat terganggu dan di pinggiran hutan.

Di Sumatera, mereka mencapai kepadatan penduduk tertinggi di rawa-rawa bakau campuran, hutan sekunder bukit, sungai dan hutan. Beberapa juga diamati di rawa air tawar, padang rumput belukar, hutan primer dataran rendah, dan kebun karet.

Di Thailand, kera ekor panjang terjadi di hutan cemara, hutan bambu, dan hutan berganti daun.

Di Malaysia, mereka berlimpah di hutan dataran rendah pesisir.

Spesies ini telah diamati air minum banyak dan makan kepiting, mereka sering hidup tubuh di dekat air.. Dari berbagai habitat ditempati oleh kera ekor panjang, hutan rawa tampaknya memiliki kepadatan tertinggi mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan habitat telah memperluas jangkauan beberapa populasi kera ekor panjang.. Di Malaysia, membersihkan lahan, seperti area perkebunan, telah dijajah oleh spesies ini.. Telah diamati bahwa beberapa habitat terganggu memiliki pasukan yang lebih tinggi dan ukuran populasi dari beberapa hutan asli.

Spesies ini mempunyai tingkat tertinggi arboreality semua spesies kera.. Salah satu studi perilaku kera ekor panjang melaporkan bahwa mereka tidak pernah datang ke tanah kecuali dalam waktu 5 meter dari tepi sungai dekat pohon mereka.. kepadatan populasi spesies ini diurnal bervariasi 10-400 per kilometer persegi.

Rentang Geografis

kera ekor atau (Macaca fascicularis) ditemukan dalam Asia Tenggara dari Burma ke Filipina dan selatan melalui Indocina, Malaysia, dan Indonesia.. Mereka ditemukan sejauh timur sebagai Kepulauan Timor.

Panjang Umur

Meskipun jangka hidup spesies ini belum pernah dilaporkan, kemungkinan untuk menyerupai anggota lain dari genus, yang sepertinya mampu memperoleh usia maksimum sekitar 30 tahun di penangkaran

Peran Ekosistem

Sejauh mangsa binatang ini untuk spesies yang lain, mereka dapat mempengaruhi populasi spesies-spesies Macaca fascicularis. Mungkin menjadi predator penting dalam ekosistem, dan mungkin memiliki dampak pada spesies mangsa.

Ekonomi penting untuk Manusia: Negatif

Kera ekor panjang telah dikenal untuk memberi makan dalam bidang yang dibudidayakan pada item seperti padi kering muda, daun singkong, karet buah, tanaman talas, dan tanaman lainnya.. Mereka juga mengambil makanan dari kuburan, tong sampah, dan lubang sampah.. Mereka juga terlibat dalam interaksi agresif dengan orang-orang.

Cara bahwa hewan-hewan mungkin menjadi masalah bagi manusia:
melukai manusia (membawa penyakit pada manusia); hama tanaman.

Ekonomi penting untuk Manusia: Positif

Kera ekor panjang, bersama dengan spesies lain dari kera, memiliki manfaat manusia melalui penggunaan mereka sebagai model penelitian dalam imunologi, operasi, toksikologi, dan farmakologi.. Mereka juga anggota penting dari ekosistem dan dapat menjadi dasar bagi usaha ekowisata.. Mereka kadang-kadang masih diburu untuk makanan.

Status Konservasi

IUCN Red List: [link] :. Risiko rendah - Hampir terancam.

US Federal List: [link] :. Tidak ada status khusus.

CITES: [link] : Lampiran II.

Ada sembilan taman nasional, sembilan cadangan, dan dua tempat-tempat suci di mana beberapa kera ekor panjang berada.. Apapun jenis habitat, harus ada minimal 500 kilometer persegi habitat yang diperlukan untuk mendukung populasi yang layak 5.000 kera ekor panjang.. Ini adalah ukuran minimal untuk tujuan pembentukan cadangan untuk spesies ini.

Kera ekor panjang menerima perlindungan dalam reruntuhan kuil di Thailand dan perlindungan dan makanan di candi di Bali.. Di Malaysia, kera ekor panjang dilindungi secara hukum, dan mereka diberi makan dan dilindungi di hutan kota dan taman.. Di Filipina, banyak perhatian dalam melindungi spesies ini.. Di Indonesia, spesies yang dilindungi dengan baik, tetapi beberapa cadangan sedang dipertimbangkan untuk pengeboran minyak dan panen. Beberapa orang di Bali, pada kenyataannya, pertimbangkan primata ini menjadi suci.. Hal ini dapat meningkatkan peluang kelangsungan hidup mereka dalam cadangan.. Di Thailand, kera ekor panjang akan diburu, ditangkap, atau disimpan di penangkaran hanya di bawah lisensi. Ekspor spesies ini diatur oleh sistem kuota.

Meskipun ada beberapa tempat-tempat suci untuk kera ekor panjang, berburu masih masalah.. Di Thailand dan Borneo, mereka diburu untuk makanan.. Spesies ini juga tewas karena merupakan hama untuk pertanian.. Fakta bahwa kera merusak tanaman telah mencegah beberapa pemerintah dari membuat upaya konservasi serius.. kera ekor panjang dikumpulkan untuk penelitian medis. Mereka adalah salah satu dari lima spesies primata paling digunakan dalam penelitian medis.. Banyak dari kera yang diekspor ke Amerika Serikat dan Britania Raya. abitat rugi dalam organisme ini terjadi akibat adanya operasi penebangan luas.

Tingkah laku

Secara struktur sosial, kera jantan dibedakan menjadi tiga tingkatan yaitu pemimpin (golongan atas), wakil pemimpin (golongan menengah) dan jantan biasa (golongan bawah). Pemimpin bertugas mengawasi lingkaran luar dan lingkaran dalam secara keseluruhan,wakil pimpinan mengawasi kegiatan dalam, sementara jantan biasa berkelompok membentuk lingkaran luar. Kera betina mengasuh anak (Welber et al,1972)

Kera ekor panjang hidup dalam kelompok-kelompok multi-laki-laki terdiri dari sekitar tiga puluh anggota. Pada saat jatuh tempo seksual, laki-laki meninggalkan kelompok natal mereka, dan bergabung dengan kelompok sarjana baik atau kelompok sosial yang baru.. Sejak laki-laki meninggalkan grup natal, mereka tunduk pada predasi lebih, penyakit, dan cedera daripada yang betina.. Setelah laki-laki menemukan kelompok lain yang menetap, ia dapat menggantikan beberapa laki-laki tinggi yang ada.. Pria pengganti itu sendiri adalah sebuah proses di mana orang dewasa laki-laki asing berhasil mengambil alih posisi harem penduduk laki-laki itu. Kejadian-kejadian ini adalah aktivitas yang sangat agresif, dan orang dewasa yang berpartisipasi akan biasanya terluka.

Meskipun agresi antara laki-laki, spesies ini dicirikan oleh kurangnya genral agresi antara kelompok-kelompok. interaksi antar dihindari / Ketika kelompok-kelompok ini bertemu, ada cenderung tingkat tinggi agresi, melibatkan mengejar kelompok non-penduduk keluar dari kawasan itu.. vokalisasi keras dan cabang-terpental merupakan bagian karakteristik dari interaksi ini.. Jantan dan betina dapat menggunakan ancaman mulut terbuka.. Hal ini melibatkan menunjukkan musuh gigi seri dan gigi taring, dan menarik telinga dan hidung kembali.. Alpha laki-laki biasanya orang yang memimpin agresi dengan melakukan 90% dari cabang-memantul.

Dalam kelompok, sebuah hirarki dominasi yang ketat linear berkembang di kalangan kaum pria. hirarki ini ditentukan oleh faktor-faktor seperti usia, ukuran, dan keterampilan berkelahi. Karena perempuan tidak bubar, mereka adalah inti stabil kelompok. Wanita memiliki kecenderungan untuk memiliki ikatan erat dengan kerabat ibu mereka sepanjang hidup mereka.. Ada, tetapi, sebuah hirarki dominasi pada wanita dalam kelompok. Akuisisi peringkat melibatkan intervensi aktif oleh kerabat ibu, dan perlakuan yang berbeda oleh anggota kelompok yang tidak terkait.. Grooming pada wanita adalah aktivitas umum.. Hal ini sangat umum untuk wanita berpangkat rendah untuk wanita laki-laki higer-peringkat.. Hal ini memungkinkan wanita-peringkat yang lebih rendah untuk menerima pelecehan lebih sedikit, lebih banyak dukungan dalam interaksi agresif, dan akses ke sumber daya yang terbatas.

Kera ekor panjang yang unik di antara primata non-manusia lain karena kemampuan mereka untuk menunjukkan belajar atau perilaku budaya. Ini perilaku budaya diamati dalam penyusunan makanan oleh kera ekor panjang. Pada satu kesempatan, seorang perempuan dewasa mencelupkan sepotong buah ke sungai dan kemudian dia mengkonsumsi.. Diusulkan bahwa mungkin wanita sedang membersihkan pasir dari buah.. Para ilmuwan meneliti ini lebih lanjut pada orang lain yang menunjukkan perilaku ini.. Beberapa kera berpasir buah dicuci di sungai, namun beberapa dari mereka juga mencuci buah para ilmuwan telah dibersihkan sebelum mendistribusikannya.. Ada juga kera ekor panjang yang hanya makan buah dibersihkan tanpa mencuci mereka.. Kontroversi tentang apa perilaku budaya berarti masih diteliti.

Komunikasi dan Persepsi

Seperti pada spesies lain dari genus Macaca , kemungkinan bahwa hewan-hewan menggunakan kombinasi visual (ekspresi wajah, postur tubuh), auditori (vokalisasi), secara fisik (grooming, bermain, kawin, agresi) dan kimia mungkin (penciuman) sinyal sebagai bagian dari khasanah komunikasi.

II. Hasil Observasi dan Pembahasan

Deskripsi mengenai KMRKB.

Daerah ini tertetak di Kecamatan Seberang Ulu II tepatnya di komplek Bagus Kuning Plaju yang merupakan Makam Ratu Bagus Kuning dan sampai saat ini masih dikeramatkan karena menurut legenda Ratu Bagus Kuning orang yang sakti dan sebagai penyambung risalah Rosullulah melalui para wali untuk menyebarkan agarna Islam, daerah yang dikuasainya yaitu kawasan Batang Hari Sembilan.

Ratu Bagus Kuning dimakamkan di tepian sungai Musi, pada zaman dahulu di atas makarn beliau berdiri bangunan tinggi yang memayungi makam tersebut namum setelah beberapa saat bangunan tersebut lenyap tanpa bekas seperti ghaib.

pada abad ke 16 Beliau mempunyai pengikut atau penghulu sebanyak 11 orangyaitu:

1. Penghulu Gede

2. Datung Buyung

3. Kuncung Emas

4. Panglima Bisu

5. Panglima Api

6. Syekh Ali Akbar

7. Syekh Maulana Malik Ibrahim

8. Syekh Idrus

9. Putri Kembang Dadar

10. Putri Rambut Selako

11. Bujang Juaro

Ratu Bagus Kuning hingga akhir hayatnya tidak pernah menikah dan tidak pernah haid (tetap suci), selain itu kita dapat melihat monyet/Kera jinak yang menurut cerita keturunan siluman kera yang pada waktu bertanding dengan Ratu Bagus Kuning mengalami kekalahan sehingga siluman kera bersumpah keturunannya akan menjadi pengikut sertia Ratu Bagus Kuning.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, populasi kera ekor panjang di Makam Ratu Bagus Kuning di tahun 2010 ini lumayan banyak yakni diperkirakan sekitar 150 - 200 ekor yang masih bisa bertahan hidup sampai saat ini.

Populasi kera berjenis kelamin jantan jumlahnya lebih banyak daripada Kera berjenis kelamin betina, lebih kurang ada lima ekor kera yang masih bayi dan masih menyusu dengan induknya sedangkan kera-kera yang masih muda jumlahnya juga lumayan banyak namun tidak lebih banyak dari kera dewasa.

Untuk menentukan jumlah kera yang berjenis kelamin jantan dan kera yang berjenis kelamin betina dan perkiraan strata perkembangan dilakukan dengan melihat alat kelamin kera dan postur tubuh kera.

Bayi kera rambutnya hitam dan terlihat agak gundul, badan masih kurus dan kecil dan selalu dalam lindungan (gendongan) induknya, tetapi, jenis kelaminnya susah untuk diketahui karena bayi kera selalu dalam gendongan.

Kera muda sudah hidup sendiri dan mencari makan sendiri, postur tubuh masih lumayan kecil namun sudah jauh lebih besar daripada bayi kera tetapi jenis kelamin masih susah dibedakan karena belum terlalu jelas.

Sedangan kera dewasa sangat jelas bisa dibedakan kera jantan mempunyai postur tubuh yang besar, bercambang lebat yang mengelilingi muka, serta penis dan skrotum terlihat jelas.

Kera betina postur tubuh besar namun lebih kecil dari jantan dewasa, memiliki vagina dan putting susu yang telah berkembang di bagian dada.

Ada satu ekor raja kera yang disebut dengan panggilan “kondor”. Hal ini dikarenakan sang raja kera yang memiliki kekurangan yakni alat kelaminnya yang besar sebelah.. Seorang Kera menjadi raja jika telah berhasil mengalahkan semua calon-calon raja kera lainnya. Disini Berlaku Hukum Rimba yang terkuat yang menguasai.

Si Kondor ini duduk diatas bambu yang paling tinggi. Postur tubuhnya paling besar dibandingkan dengan kera jantan biasa lainnya. Cambangnya sangat lebat, jika pada jantan biasa diatas kelopak mata biasanya berwarna putih sedangkan pada raja kera berwarna merah.



Kelopak mata berwarna merah

Dari tabel pengamatan mengenai perilaku atau aktivitas kera ekor panjang di Makam Ratu Bagus Kuning dapat dilihat jika perilaku yang disebutkan secara teori terbukti secara nyata di lapangan.

Aktivitas yang dimaksud antara lain:

1. Aktivitas mencari makan yakni bergerak aktif mendapatkan sumber makanan, Aktivitas makan

puting susu

Kera jantan sedang makan pisang kera betina sedang mengupas kacang

Kera kecil menggigiti kulit kayu

Mereka makan diatas bambu, duduk santai diatas cabang maupun di bagian bambu yang paling bawah.

Memegang kaki kami, supaya diberi makanan

Kera, kera ini sangat aktif mencari makan dari pengunjung yang berdatangan, mereka memegang kaki, memegang rok, dan apalagi melihat ada pengunjung yang membawa makanan, secara spontan kera mendekat ingin mencoba mengambil makanan dari tangan pengunjung.

Bahkan tak jarang, mereka berebutan

kera muda sedang melarikan pisang, karena tidak mau berbagi.

pisangnya diletakkan saja di tanah, tidak dimakan

Tetapi, tidak setiap makanan yang dibawa pengunjung langsung dimakan oleh kera, mereka ternyata pemilih juga, makanan itu dicium-cium dulu jika suka baru dimakan, tetapi ada juga yang dimakan hanya seupil lalu dibuang begitu saja, mungkin rasa pisangnya tidak enak. Sebelum dimakan, kulit pisang dilepas terlebih dahulu, dan jika makan kacang, kacangnya dipukul-pukul di tanah supaya kulitnya terbuka. Kera lebih suka makan kacang daripada pisang, mungkin karena sudah bosan dikasih makan pisang terus.

Aktivitas bergerak dan bermain

kera sangat aktif bergerak dan berpindah – pindah, berkeliaran sambil bermain berkejar-kejaran di seluruh makam, mulai dari bergelayutan di pohon, dan bermain di atas motor pengunjung. Sambil bermain tak jarang mereka mengeluarkan suara-suara khas mereka.

Aktivitas istirahat yakni aktivitas yang cenderung bahkan tidak dilakukan, berbaring atau duduk

Sekitar jam 12-1 siang (adzan zuhur) kera-kera berhenti bermain dan kejar-kejaran, makan. Mereka kecapekan dan beristirahat, ada yang duduk,, terlentang, dan tiduran di atas pohon.

Aktivitas Grooming, yakni kegiatan berupa membersihkan badan dengan menggunakan tangan, baik dilakukan terhadap dirinya sendiri maupun terhadap kera lain

Dalam bahasa sehari-hari grooming merupakan kegiatan mencari kutu. Aktivitas ini dilakukan oleh kera disela-sela kegiatannya mencari makan. Ada pula yang memang sibuk melakukan aktivitas grooming dari awal dan tidak memperdulikan kera lain yang sibuk mencari makan. Ada kera yang dicarikan kutu sampai terlentang tidak peduli dengan sekitar, bahkan ada yang melakukan aktivitas ini sampai berderet tiga. Ada pula seekor induk kera melakukan grooming terhadap anak yang sedang digendong dan menyusu kepadanya. Grooming sendiri bertujuan untuk membersihkan dan memelihara diri dari parasit maupun kotoran, selain itu juga untuk membangun dan menjaga serta memperkuat ikatan sosial.

Aktivitas pemeliharaan anak

Aktivitas ini meliputi menggendong anak, menyusui, memberi makan, memberikan perlindungan, grooming, dan bermain. Sebagian besar aktivitas ini dilakukan oleh kera betina dewasa, hal ini terlihat jelas ada sekitar 3 sampai 5 ekor kera betina dewasa yang menggendong anak sambil menyusui anaknya. Disela-sela kegiatan itu juga kera betina melakukan aktivitas grooming terhadap anaknya. Bayi-bayi kera tidak pernah lepas dari gendongan kera betina dewasa meskipun kera-kera betina tersebut bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Kera betina memeluk erat bayinya ketika pengunjung mencoba mengambil foto dan berusaha mendekati kera.

menyusui

Aktivitas kawin, yakni jantan mengejar betina dan penetrasi alat kelamin jantan ke betina

Di lapangan terlihat kurang lebih 10 ekor kera yang kawin, tidak bisa dipastikan apakah ke sepuluh kera tersebut kera yang sam atau kera yang lainnya. Namun yang terlihat ada 10 kali kera yang kawin. Kera tersebut mengejar betinanya dan melakukan penetrasi alat kelaminnya. Menurut kuncennya kera bisa kawin 44 kali dalam sehari selain itu kera tersebut terlihat sangat agresif terhadap pengunjung wanita. Ada kera yang sampai mengikuti kemana saja pengunjung wanita pergi. Bahkan ada yang sampai mengelus-elus kaki pengunjung wanita sampai mengeluarkan sperma. Terlihat jika pada saat itu libido kera sangat tinggi.

Aktivitas berkelahi yakni menyerang dan mempertahankan diri yang disertai individu yang lain

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, aktivitas ini biasa dilakukan oleh kebanyakan kera jantan, namun bukan berarti tidak dilakukan oleh kera betina. Biasanya aktivitas ini terjadi pada saat kera berebut makanan atau bahkan memperebutkan betina pada saat kawin. Aktivitas berkelahi ini sering menimbulkan suara gaduh yang bisa membuat pengunjung ketakutan.

Kera yang hidup di tengah kota sudah memiliki sifat yang sudah sedikit berbeda yakni lumayan jinak. Tidak jarang kera-kera ini mencari makanan hingga komplek perumahan yang berada di sekitar habitat kera ini.

MENGIDENTIFIKASI PERMASALAHAN DI DAERAH STUDI DAN KENDALA ATAU HAMBATAN

Dari pengamatan kami mengenai area studi yang dikunjungi, ada beberapa faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaan kegiatan ini baik dari praktikan maupun di daerah studi yang dikunjungi.

Beberapa kendala yang dihadapi praktikan adalah kurang tahunya praktikan mengenai daerah yang akan dituju. Selanjutnya adalah ternyata area studi tersebut terletak ditengah-tengah lapangan golf yang tentu saja hal ini menyulitkan praktikan untuk mencapai area studi yang dituju.

Untuk kendala dari area itu sendiri yaitu banyaknya makam sehingga praktikan harus berhati-hati dalam melakukan kegiatannya. Kemudian,adanya lapangan golf di sekitar area studi mungkin mengganggu aktivitas dari monyet itu sendiri karena, tempat hidupnya menjadi sempit. Selain itu, seringnya interaksi monyet dengan manusia menyebabkan monyet menjadi tidak takut dengan manusia karena, di area tersebut terdapat makam Ratu Bagus Kuning yang setiap harinya masyarakat datang untuk berziarah.

KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan langsung yang kami lakukan mengenai primate (monyet) di daerah kompleks Makam Ratu Bagus Kuning dapat disimpulkan bahwa:

1) Monyet adalah golongan primata yang memiliki kelakuan hampir sama dengan manusia.

2) Monyet melakukan berbagai aktivitas yaitu makan, minum, tidur, berkelahi, mencari kutu, bermain, menyusui dan kawin.

3) Raja monyet dapat kawin beberapa kali sehari (dari penelitian selama 3 jam diketahui raja monyet kawin sebanyak >4 kali).

4) Di kompleks makam Raja Bagus Kuning hingga sekarang terdapat sekitar 200 monyet.

5) Aktivitas golf di sekitar area tempat hidup monyet membuat mereka lebih aman untuk berada di sekitar makam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar