Kamis, 17 Maret 2011

I. Praktikum ke : III

II. Tanggal Praktikum : 23 Oktober 2008

III. Judul Praktikum : Mengenal Jaringan Tumbuhan

IV. Tujuan Praktikum : Untuk mengetahui berbagai bentuk jaringan pada tumbuhan

V. Landasan Teori

Tumbuhan mengalami proses tumbuh dan berkembang.Pada saat itu sel akan terspesialisasi untuk menjalankan berbagai fungsi.Setiap tipe sel mungkin ditemukan di dalam tiga organ tumbuhan;akar,batang,daun.Pada tumbuhan multiseluler sel-sel tersebut akan bekerja sama di dalam suatu kelompok membentuk Jaringan.Jaringan sederhana tersusun atas sel-sel yang tipenya sama,sedangkan jaringan kompleks tersusun atas sel-sel yang berbeda-beda bekerja sama melakukan fungsinya.

Beberapa sel pada tumbuhan:

1. Sel Parenkim: Sel ini memiliki fungsi untuk menyokong berdirinya tumbuhan, juga merupakan dasar bagi semua struktur dan fungsi tumbuhan. Sel parenkim memiliki dinding primer yang tipis, umumnya sel-sel besar dan bersegi banyak, kaya akan ruang antara sel sitoplasmanya sangat fungsional. Sel ini hidup saat dewasa, dan bertanggung jawab terhadap fungsi biokimia Sel-sel parenkim melakukan berbagai macam fungsi sehubungan fungsinya dalam tubuh tumbuhan dan partisipasinya dalam aktivitas sel-sel lainnya. Meskipun sel-sel parenkim sudah terspesialisasi di dalam fungsinya, tetapi mempunyai kemampuan berubah-ubah aktivitasnya. Plastisitas fisiologis tersebut ditentukan oleh adanya protoplas yang lengkap di dalam selnya. Protoplasnya ternyata mampu membentuk bermacam-macam fungsi pada waktu yang sama, karena sistem selaputnya mampu membentuk perluasan-perluasan bagian-bagiannya. Sel parenkim dapat juga mempunyai aktivitas meristematis, misalnya pada penyembuhan luka, regenerasi, pembentukan akar dan pucuk adventif, bersatunya jaringan-jaringan dalam penempelan (graft). Semuanya merupakan aktivitas meristematis dari sel-sel parenkim. Isolasi dari sekelompok sel-sel parenkim atau bahkan sel-sel tunggal dari parenkim mampu menghasilkan seluruh bagian tumbuhan. Sel-sel parenkim mempunyai karakteristik yang berbeda-beda dengan adanya akumulasi zat-zat ergastik yang spesifik. Sel-sel parenkim yang menyimpan pati, plastidanya mempunyai organisasi bagian dalamnya yang sederhana, yaitu yang dinamakan amiloplas seperti terdapat pada kebanyakan biji dan pada organ-organ penyimpan yang terdapat di dalam tanah. Biji juga sering menyimpan protein atau lemak di dalam sel-sel parenkim. Sel-sel parenkim dalam bunga dan buah sering berisi kromoplas, yaitu plastida yang berisi pigmen karotin dan santofil. Didalam berbagai organ tumbuhan, sel-sel parenkim jelas tampak dengan adanya akumulasi antosianin atau tanin di dalam vakuolanya atau mengandung bermacam-macam bentuk kristal.

Sel ini merupakan penyusun jaringan parenkim yang .merupakan jaringan dasar pembentuk kortek, empulur pada batang, kortek pada akar, jaringan dasar tangkai daun, mesofil daun dan dalam sistem jaringan kompleks yaitu dalam xilem dan floem.

Jaringan parenkim ini merupakan jaringan pengisi dan terdapat diantara epidermis dan empulur. Pada daun ada 2 macam jaringan parenkim yaitu parenkim palisade dan parenkim bunga karang (spons).

2. Sel Kolenkim, Dinding sel tebal dan mengkilap pada sayatan segar, penebalannya tidak merata pada seluruh dinding sel. Dinding sel selain mengandung selulosa, juga sejumlah besar pektin dan hemiselulosa, tetapi tak mengandung lignin. Zat pektin bersifat hidrofilik, sehingga dinding sel kolenkim banyak mengandung air (dapat ditunjukkan dengan menambahkan alkohol pada preparat segar, akan terjadi pengerutan dinding sel). Noktah primer sering didapatkan pula pada dinding kolenkim.

Distribusi penebalan dinding kolenkim terdapat beberapa pola. Jika penebalan dinding pada sudut-sudut sel, maka disebut kolenkim sudut. Jika penebalan dinding pada dinding tangensial, maka disebut kolenkim papan. Pada jaringan kolenkim ada juga yang terdapat ruang antarsel, ada pula yang tidak. Jika terdapat ruang antarsel, maka penebalan dinding terjadi dekat ruang antarsel. Kolenkim demikian disebut kolenkim lakunar. Dinding kolenkim merupakan dinding primer yang menebal. Penebalan terjadi pada waktu sel tersebut tumbuh. Dengan perkataan lain dinding sel bertambah tebal bersama-sama dengan sel tersebut bertambah besar.

Distribusi kolenkim dalam tumbuhan terdapat di bagian tepi batang dan dalam kosta daun sebelah bawah ikatan pembuluh atau sekeliling ikatan pembuluh.Sel kolenkim tidak memiliki dinding sekunder .Pada tumbuhan tua,dinding sel kolenkim akan mengeras atau berlignin sehingga dapat berubah menjadi sel sklerenkim.Sel Kolenkim merupakan penyusun jaringan kolenkim.Jaringan Kolenkim pada umumnya terletak di bawah epidermis batang, tangkai daun, tangkai bunga, dan ibu tulang daun pada tumbuhan muda yang sedang tumbuh dan jarang terdapat pada akar.Jaringan Kolenkim merupakan jaringan hidup yang memiliki kesamaan sifat dengan jaringa Parenkim,sel Kolenkim memiliki protoplas yang mampu untuk membelah misalnya membentuk cambium gabus.

3. Sel Epidermis, dinding sel epidermis bervariasi tebalnya dan pada bagian yang berbeda dari tumbuhan yang sama. Pada dinding sel epidermis yang tipis, dinding sel terluar sering merupakan yang paling tebal. Epidermis yang berdinding tebal terdapat pada daun Coniferae. Penebalan dinding yang merupakan dinding sekunder, hampir menghilangkan lumen sel dan berlignin. Dinding sel menjadi bersilika seperti pada rumput.Beberapa sel Epidermis bermodifikasi menjadi stomata.Sel Epidermis membentuk jaringan Epidermis yang merupakan Jaringan pelindung dan merupakan jaringan paling luar yang membungkus tumbuhan. Jaringan epidermis menutupi seluruh tubuh tumbuhan, mulai dan akar, batang, hingga daun. Biasanya, epidermis hanya terdiri dan selapis sel yang berbentuk pipih dan rapat.

Jaringan epidermis daun terdapat di permukaan atas dan permukaan bawah daun. Jaringan epidermis daun tidak mempunyai kioroplas kecuali pada bagian sel penjaga yang mengapit stomata. Stomata merupakan modifikasi epidermis yang berfungsi untuk pertukaran gas.

Jaringan epidermis batang ada yang membentuk lapisan tebal (lapisan kutikula) atau menibentuk rambut (trikoma) sebagai alat perlindungan. Jaringan epidermis akar ada yang menjadi rambut akar. Rambut akar berfiingsi menyerap air dan garam mineral.

4. Sel Sklerenkim mempunyai dinding yang keras, kaku, dinding sekunder yang biasanya berlignin. Sel ini mempunyai penebalan sekunder. Membentuk jaringan sklerenkim. Sel-sel sklerenkim mempunyai dinding sekunder setelah terjadi perluasan lengkap dari pertumbuhan dinding primer. Dinding sekunder terdapat pada sel-sel untuk mengalirkan air dan xilem, dan sering terdapat pula pada sel-sel parenkim xilem

sehubungan dengan fungsi mekanik atau penyokong/ penguat, yaitu sel-sel yang bersifat keras dan kaku dalam jaringan. Menurut bentuknya, sklerenkim dibagi menjadi dua, yaitu serat dan sel batu (sklereid). Serat atau serabut sklerenkim berbentuk seperti benang panjang. Sel batu bermacam-macam bentuknya. Sel ini disebut sel batu karena dinding selnya keras, misalnya pada tempurung kelapa.. Kedua macam sel tersebut tidak berbeda secara tajam, tetapi umumnya serat merupakan sel yang panjang, sedangkan sklereid bermacam-macam bentuknya dan hampir isodiametris sampai panjang dan beberapa sklereid lebih banyak yang bercabang.

Sel-sel sklerenkim ada yang kosong, ada pula yang masih mempunyai protoplas pada keadaan dewasa. Variasi tersebut menambah kesukaran dalam membedakan sel-sel sklerenkim dan sel-sel parenkim yang bersifat sklerenkim.

Komponen utama sel sklerenkim adalah dinding sel bukan bahan hidup protoplasma.Oleh karena itu,sel-sel sklerenkim masih dapat melangsungkan fungsinya walaupun sel tersebut mati.Fungsi utama jaringan sklerenkim adalah sebagai peindung dan penyokong.

5. Trakeid, selnya berujung meruncing dan ada penebalan dinding.Merupakan bagian dari xylem (lkatan pembuluh) pada tumbuhan kayu.

6. Trakea,selnya mengalami penebalan dinding dan berderat memanjang sejajar sumbu tumbuh. Dinding ujung masing-masing sel berlubang sehingga merupakan satu saluran.

7. Pembuluh Tapis,terdiri atas suatu deretan memanjang dari sel-sel yang memiliki dinding ujung yang berpori halus.

Trakeid dan Trakea merupakan bagian dari xylem (kayu).Sedangkan pembuluh tapis merupakan bagian dari floem (kulit kayu).Xylem dan Floem membentuk ikatan pembuluh.Macam-macam sel tersebut terorganisasi dalam organ tumbuhan dalam pola tertentu.Sel tumbuhan yang mempunyai jaringan dapat dibutuhkan organ sebagai berikut:

1. Akar

Fungsi akar adalah untuk menghisap air dengan organ-organ terlarut dari tanah, untuk itu pada akar terdapat :

a. Rambut akar terdapat pada akar muda yang berfungsi untuk menghisap air.

b. Lapisan terdalam dari korteks (kulit) ialah epidermis yaitu selapis sel-sel dan berfungsi untuk mengatur masuknya air ke dalam jaringan pembuluh. Letak xylem dan floem bergantian.

.

Diujung akar dikotil muda ada jaringan meristem

Jaringan meristem adalah jaringan yang sel penyusunnya bersifat embrional (terus menerus membelah). Ciri-ciri meristem misalnya sel muda dan belum mengalami diferensiasi dan spesialisasi, berdinding tipis, protoplasma banyak, vakuola kecil, inti besar, plastida belum matang dan berbentuk sama ke segala arah.


a. Meristem Primer
- berkembang dari sel embrional
- letaknya pada kuncup, ujung akar, batang dan cabang
- fungsinya memungkinkan akar dan batang bertambah panjang (pertumbuhan primer)


b. Meristem Sekunder
- berkembang dari jaringan dewasa yang telah mengalami differensiasi dan spesialisasi
- terdapat pada kambium
- fungsinya memungkinkan batang bertambah besar (pertumbukan sekunder/melebar)

Pada akar yang lebih tua, ada meristem lain, kambium, yang berkembang di antara xilem dan floem. Mitosis dalam kambium membentuk xilem baru (sekunder) ke sebelah dalam dan floem baru (sekunder) ke sebelak luar.

Berkas-berkas pembuluh pada batang hanyalah merupakan perpanjangan berkas pada akar. Akan tetapi, penyusunannya agak berbeda. Selain itu, penataan berkas-berkas pada batang monokotil secara nyata berlainan dengan yang ada dalam batang dikotil. (Pada dasarnya organisasi jaringan pada akar monokotil dan akar dikotil sama saja). Bahkan di antara dikotil, penataan jaringan pada tumbuhan yang membentuk batang berkayu (perenial) agak berbeda dengan yang batangnya herba (anual).

2. Batang

Pada batang, jaringan pembuluh teratur dalam berkas pembuluh, dimana masing-masing berkas terdiri dari berkas xylem (di dalam) dan berkas floem (di luar).

Dilihat dari penampang melintang, bekas pembuluh pada dikotil tersusun dalam satu lingkaran, sedang pada monokotil tampak tersebar. Kambium pembuluh terdapat di antara xylem dan floem pada dikotil dan akan membentuk jaringan pembuluh baru, tidak saja di dalam ikatan pembuluh, tetapi juga di luarnya.

Pada tumbuhan berpembuluh dapat dibedakan beberapa macam batang, yaitu:

a. Batang kayu

Pada batang ini terdapat pertumbuhan sekunder terus menerus (terjadi

penambahan tebal diameter batang).

b. Batang setengah kayu

Pertumbuhan sekunder terbatas, biasanya umur tanaman setahun atau kurang (annual). Ikatan pembuluh yang terdiri dari xylem, kambium dan floem tersusun melingkar dalam sayatan melintang.

c. Batang yang tidak mengalami pertumbuhan sekunder

Misalnya pada monokotil yang tidak mempunyai kambium dan letak ikatan pembuluhnya menyebar.

3. Daun

Sebagaimana organ lainnya, daun terdiri dari sel-sel yang telah menyesuaikan diri untuk bermacam-macam peranan.

Pada umumnya daun berbentuk lebar sesuai dengan fungsi utamanya, yaitu fotosintesis, makin luas permukaannya, makin efisien untuk fotosintesis.

Untuk mengurangi penguapan, epidermis dilapisi kutikula atau lilin, sedangkan stomata (bentuk jamak dari stoma = mulut daun) berfungsi dalam mengatur penguapan serta pertukaran gas

.

Penampang Melintang Daun

Stomata

Stomata adalah celah dalam epidermis yang diapit oleh 2 sel epidermis khusus yang disebut sel penutup. Dengan terjadinya perubahan bentuk sel penutup, maka terjadi pembukaan dan penutupan celah. Stoma dikelilingi oleh sel-sel yang tidak berbeda dari sel-sel dasar lainnya dari epidermis. Pada kebanyakan tumbuhan, stomata dikelilingi oleh sel-sel yang berbeda bentuknya dan kadang-kadang isinya dari sel-sel epidermis lainnya. Sel-sel yang berbeda tersebut disebut sel-sel tetangga dan stoma. Sel-sel tetangga turut serta dalam perubahan osmotik yang berhubungan dengan pergerakan sel-sel penutup.

Stomata terdapat pada semua bagian tumbuhan yang terdedah ke udara, tetapi lebih banyak terdapat pada daun. Pada akar biasanya tidak terdapat stomata. Frekuensi stomata sangat bervariasi. Frekuensi stomata bervariasi pada bagian yang berbeda dari daun yang sama dan daun yang berbeda dari tumbuhan yang sama, dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Pada daun, stomata terdapat pada kedua permukaan atau hanya satu pemukaan, biasanya pada permukaan bawah. Stomata juga bervaniasi posisinya pada epidermis. Ada yang sejajar, lebih tinggi, dan lebih rendah dari sel-sel epidermis.

(a) Penampang melintang stomata (b) Penampang melintang Stomata

c. Jaringan Kambium

Pada tumbuhan dikotil, kambium terletak diantara jaringan xilem dan floem. Kambium terdiri dari sederetan sel-sel yang hidup dan selalu membelah. Pembelahan sel kambium ke arah dalam menghasilkan xilem sekunder dan ke arah luar menghasilkan floem sekunder. Kegiatan kambium menyebabkan tubuh tumbuhan bertambah besar akibat adanya pertumbuhan sekunder. Pada musim penghujan kegiatan kambium tinggi, sedangkan pada musim kemarau rendah. Kambium hanya ada pada tumbuhan dikotil, misal pada batang jati, nangka, mahoni. Kambium menyebabkan timbulnya lingkaran tahun pada batang.

VI. Alat dan Bahan

a. Alat:

1. Mikroskop

2. Kaca objektif dan kaca penutup

3. Silet tajam

4. Pipet

5. Pinset

b. Bahan:

1. Batang bunga matahari (Helianthus annus atau Hellianthus angustifolius) umur 1 bulan.

2. Batang jagung (Zea mays)

3. Batang bunga mawar (Rosa sinesis/ R hibrida)

4. Daun Rhoeo discolor

5. Daun Ficus sp (tumbuhan karet atau beringin)

6. Akar kecambah kacang merah (Phaseolus vulgaris) umur 4-5 hari.

7. Empulur singkong/ubi kayu (Manihot esculenta)

8. Anilin sulfat

9. Gabus

10. Kapas dan tissue

VII. Cara Kerja

Kegiatan 1: Mendeteksi Ikatan Pembuluh Batang Dikotil, Monokotil, Berkayu dan akar.

1. Buatlah sayatan melintang dari batang bunga matahari, batang muda jagung, batang bunga mawar serta akar kecambah kacang merah.

Catatan : Sayatan yang baik apabila kita bisa menyayat setipis mungkin dengan menggunakan silet yang tajam, caranya sayatan silet diarahkan ke tubuh kita. Kalau sayatan kita sangat tipis dan baik ini bisa kita dapatkan gambar di bawah mikroskop satu lapis sel.

2. Letakkan sayatan tersebut di kaca objek yang telah ditetesi anilin sulfat. Kemudian tutup dengan kaca penutup. Bagian yang mengandung lignin (zat kayu akan berwarna kuning oleh anilin sulfat).

3. Amatilah dibawah mikroskop dengan perbesaran objektif l0x, kemudian 40x.

4. Perhatikan perbedaan antara keempat sayatan tersebut dan kenalilah ikatan pembuluh dan jaringan-jaringan lainnya.

GAMBARKAN:

1. Diagram pembuluh pada batang muda bunga matahari (Helianthus annus atau H. angustifolius)

2. Diagram pembuluh pada batang tua bunga mawar (Rosa sinesis atau R. hibrida)

3. Diagram pembuluh pada batang monokotil jagung (Zea mays)

4. Diagram pembuluh pada akar kecambah merah (Phaeseolus vulgaris)

Kegiatan 2: Mempelajari Jaringan

a. Diwakili oleh batang Helianthus annus

1. Amati jaringan-jaringan yang terdapat pada sayatan melintang Helianthus annus di bawah mikroskop dengan perbesaran 40x.

2. Perhatikan susunan ikatan pembuluhnya.

Jika ingin melihat keseluruhan jaringan tersebut, gerakkanlah preparat perlahan-perlahan agar semua gambar dapat kamu amati di bawah mikroskop. Usahakanlah melihat preparat dari bagian tepi (epidermis) sampai ke tengah.

GAMBARKAN: Satu struktur ikatan pembuluh dari batang Helianthus annus atau Helianthus angustifolius dan tunjukkan pada gambarmu mana yang dimaksud xylem, floem, kambium, korteks, kolenkim, skelerenkim, epidermis dan empulur.

b. Mempelajari Jaringan Pada Penampang Melintang Daun Ficus

1. Selipkan sepotong daun Ficus di antara empulur batang pohon singkong (Manihot esculenta) yang telah dibelah ujungnya. (lihat gambar)

Cara Membuat Sayatan Daun

2. Buatlah irisan melintang setipis mungkin dari daun tersebut bersama empelurnya. Empelur dapat diganti dengan gabus, karena hanya berfungsi sebagai pembantu dalam menyayat daun tersebut, yang dijadikan preparat hanya sayatan melintang daun ficus.

3. Letakkan irisan tersebut diatas kaca objek yang bersih dan sudah ditetesi anilin sulfat. Tetapi harus diingatkan jangan sampai meletakkan preparat itu terbalik. Posisi bagian atas dan bagian bawah daun (permukaan atas dan bawah) tetap berada pada posisi kiri dan kanan, bekas sayatan menghadap ke atas. Kemudian ditutup dengan kaca penutup. Usahakan jangan sampai ada gelembung udara.

4. Amatilah dibawah mikroskop biologi dengan perbesaran objektif 10x, kemudian 40x. Perhatikan bagian-bagiannya seperti epidermis, palisade, spon, stoma, dan ikatan pembuluh. Ikatan pembuluh dilihat dari ibu tulang daun.

GAMBARKAN : Penampang melintang daun Ficus. Tunjukkan epidermis atas, epidermis bawah, jaringan tiang/palisade, jaringan spon atau bunga karang, ikatan pembuluh (xylem dan floem) dan stomata.

c. Mempelajari jaringan pada Hipodermis Rhoeo discolor.

1. Buatlah sayatan membujur permukaan bawah (paradermal) daun Rhoeo discolor (hipodermis, permukaan bawah yang berwarna violet/ungu).

2. Usahakan yang disayat itu setipis mungkin karena kita menginginkan untuk mengamati satu lapis sel.

3. Letakkan irisan tersebut di atas kaca objek yang sudah bersih dan telah ditetesi anilin sulfat atau air ledeng/aquadest. Kemudian tutup pakai kaca penutup.

4. Amatilah di bawah ini mikroskop dengan perbesaran l0x kemudian 40x.

GAMBARKAN : Permukaan epidermis bawah Rhoeo discolor serta tunjukkan pada gambar mana yang disebut sel epidermis, stomata, sel penutup, sel tetangga dan celah.

VIII. Hasil Pengamatan

IX. Pembahasan

Pada kegiatan 1, kami mengamati ikatan pembuluh batang dikotil, monokotil, berkayu dan akar pada batang bunga matahari, batang Bunga mawar, batang jagung, akar kecambah kacang merah membuat sayatan melintang setipis mungkin untuk mendapatkan hanya satu lapis sel sehingga mudah di amati, kemudian Letakkan sayatan tersebut di kaca objek yang telah ditetesi anilin sulfat. Kemudian tutup dengan kaca penutup. Bagian yang mengandung lignin (zat kayu akan berwarna kuning karena telah ditetesi dengan anilin sulfat).

Dari pengamatan yang kami lakukan pada kegiatan 1,

- Pada batang bunga matahari (Helianthus annus atau Hellianthus angustifolius) yang terlihat dengan jelas adalah jaringan epidermis, Xilem, dan Floem.

- Pada batang Bunga mawar (Rosa sinesis/ R hibrida) yang terlihat jelas adalah jaringan epidermis.

- Pada batang monokotil jagung (Zea mays) yang terlihat jelas adalah jaringan epidermis, jaringan parenkim yang berwarna kuning, xilem dan floem.

- Pada akar kecambah kacang merah (Phaseolus vulgaris) yang terlihat jelas adalah jaringan epidermis, sedangkan xilem dan floemnya tidak terdiferensiasi sehingga yang tampak hanyalah warna kehitaman.

Pada kegiatan 2, kami mengamati struktur ikatan pembuluh dari batang bunga matahari (Helianthus annus atau Hellianthus angustifolius). Dari pengamatan yang kami lakukan yang terlihat adalah jaringan epidermis, xilem dan juga floem. Sedangkan pada daun ficus sp (tumbuhan karet atau beringin) kami tidak menggunakan empulur batang pohon singkong (Manihot esculenta), Empelur diganti dengan gabus, karena hanya berfungsi sebagai pembantu dalam menyayat daun yang dijadikan preparat hanya sayatan melintang daun ficus sp. Letakkan irisan tersebut diatas kaca objek yang bersih dan sudah ditetesi anilin sulfat. Tetapi harus diingatkan jangan sampai meletakkan preparat itu terbalik. Posisi bagian atas dan bagian bawah daun (permukaan atas dan bawah) tetap berada pada posisi kiri dan kanan, bekas sayatan menghadap ke atas. Kemudian ditutup dengan kaca penutup. Usahakan jangan sampai ada gelembung udara. Dari pengamatan kami yang terlihat adalah jaringan epidermis atas, epidermis bawah, palisade/ jaringan tiang, jaringan spon, stomata, xilem dan floem. Kemudian kami mengamati jaringan pada hipodermis Rhoeo discolor dengan membuat sayatan membujur permukaan bawah (paradermal) daun Rhoeo discolor (hipodermis, permukaan bawah yang berwarna violet/ungu) setipis mungkin. Yang kami amati adalah stomata, epidermis, sel penutup, sel tetangga dan celah yang terlihat jelas adalah stomata.

Dilihat dari penampang melintang batang, bekas pembuluh pada dikotil tersusun dalam satu lingkaran, sedangkan pada monokotil tampak tersebar. Kambium pembuluh terdapat di antara xylem dan floem pada dikotil dan akan membentuk jaringan pembuluh baru, tidak saja di dalam ikatan pembuluh, tetapi juga di luarnya.

Dilihat dari penampang melintang pada batang, jaringan pembuluh teratur dalam berkas pembuluh sedangkan akar tidak.

Kegiatan kambium menyebabkan tubuh tumbuhan bertambah besar akibat adanya pertumbuhan sekunder. Kambium yang menyebabkan timbulnya lingkaran tahun pada batang.

Pertanyaan

1. Apa perbedaan batang dikotil dan monokotil dilihat dari ikatan pembuluhnya?
Pada batang dikotil ikatan pembuluhnya teratur sedangkan pada monokotil ikatan pembuluhnya tersebar.

2. Apa yang menyebabkan lingkaran tahun?

Aktivitas kambium yang tinggi pada musim hujan dan rendah pada musim kemarau.

3. Apa perbedaan antara akar dan batang pada penampang melintangnya?

Pada penampang melintang akar, letak xylem dan floem bergantian sedangkan pada penampang melintang batang letak xylem dan floem dibatasi oleh kambium, jadi cambium berada diantara floem dan xylem.

X. Kesimpulan

1. Jaringan terbagi dua:

§ Jaringan meristem

§ Jaringan dewasa

2. Sel pada tumbuhan terbagi tujuh:

§ Sel Parenkim

§ Sel Kolenkim

§ Sel Epidermis

§ Sel Sklerenkim

§ Trakeid

§ Trakea

§ Pembuluh tapis

3. Pada penampang melintang batang, bekas pembuluh pada dikotil tersusun dalam satu lingkaran, sedangkan pada monokotil tampak tersebar.

4. Pada penampang melintang akar letak floem dan xylem bergantian.

XI. Daftar Pustaka

Kimball, John W. 1994. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Suradinata, Tatang S. 1998. Struktur Tumbuhan. Bandung: Angkasa

Tim Dosen Biologi Umum. 2008. Panduan Praktikum Biologi Umum. Inderalaya: Universitas Sriwijaya

Yatim, Wildan.1974. Biologi. Bandung: Tarsito

1 komentar: